Tiga Mimpi



PROLOGUE

“RALPH STANLEY, kau didakwa atas kasus malapraktik yang kau terapkan kepada Marco Daffin, yang mana dinilai sebagai praktik yang bersifat radikal, yang mengantarkan pasienmu dalam kasus pembunuhan yang ke tujuh. Dengan segala pernyataan tertulis yang kau ajukan dalam surat izin praktikmu, kau bertanggung jawab atas pembunuhan terbaru yang dilakukan oleh Marco Daffin, yang mana akan menambah masa tahananmu, dari 12 tahun penjara menjadi hukuman penjara seumur hidup. Praktik sejenisnya di masa mendatang akan dilarang, beserta segala surat sertifikat yang dimiliki Mr. Ralph dan asosiasi yang terkait akan segera dicabut dalam waktu dekat,” pria berpostur kecil yang dimana ada label HAKIM di mejanya bersuara lantang dan tegas, serta merta kaku dan datar. “Demikian sidang ini berakhir. Selamat siang, semuanya.”

Ia mengetuk palu, dan pria paruh baya yang dimaksud sebagai Ralph Stanley langsung bangkit. Ia mengenakan jas rapi berwarna biru tua, dengan dasi ungu terang. Seorang pengacara di sebelahnya menjabat tangannya, menaruh wajah iba di wajahnya yang tebal, lalu mengangkat kopernya, bangkit dan pergi. Ralph sempat termangu melihat kemerlap kilat kamera yang menyambar-nyambarnya, mencabik dengan haus hanya untuk mendapatkan gambaran raut di wajahnya. Tiba-tiba tanpa ia sadari, tangannya sudah ditarik oleh seseorang. Berdiri di depannya petugas polisi berjaket kulit, menyatukan kedua tangan Ralph untuk kemudian diborgol. Pria itu bangkit, keluar ruangan. Butuh lebih dari lima polisi untuk mengawalnya, sebagaimana antusiasme wartawan memang benar-benar menggila pagi itu.

Sehari kemudian, koran seakan membawa peluh berita dari persidangan tersebut, mengambangkan gambar wajah Ralph yang tengah tersenyum kepada kamera.

Tidak. Ia tidak tengah tersenyum kepada kamera. Ia bukanlah pria narsis yang hanya ingin senyumnya terabadikan di sebuah lembaran media massa yang dimana bisa saja bernilai historis di kemudian hari. Akan tetapi, dengan senyum itu, ia berharap pers membawakan berita kepada seseorang di luar sana, bahwa ia tak menyesal dengan hukuman yang ia terima. Bahwa apa hukuman yang ia dapat setimpal dengan hikmah yang ia dapat. Atau mungkin ia hanya berharap orang itu setidaknya berpikir demikian.

***

<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>