<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>
BAGIAN 1 - Marco Daffin
BRIMWOOD hanya terdiam ketika kawan sekamarnya menggesek, sambil menertawai dalam hati sebuah catatan kecil yang ada di tangan kirinya dengan sebuah pena bertinta merah. Mungkin saja di atas ranjangnya Jack Louis terkulai lemah, namun Brimwood tahu mata kawan lamanya itu tak berpaling darinya sejak ia menyentuh ubin dengan jempol kakinya.
“Cuaca sedang cerah di luar,” gumam Jack, pandangan matanya langsung dilempar ke arah sebuah kaca jendela hitam besar yang menggantung di dinding, yang mencerminkan wajah kedua lelaki itu dengan permukaan licinnya. Yang mana menjadi bahan pakuan tatapan dingin Brimwood sekarang.
“Aku tak peduli pada cuacanya,” balas Brimwood, duduk diam di sisi ranjangnya dengan wajah tertekuk masam. Lelaki itu masih sangat muda. Dua puluhan. Akan tetapi perkara hidup yang membosankan membuatnya nampak lebih tua. Di tengah-tengah dengungan mesin motor mobil yang menyelinap melalui ventilasi kamar, ia mendesah perlahan. Nada suaranya langsung berubah sarkastik. “Persetan dengan cuaca hari ini. Hariku cukup buruk untuk mengetahui perkara basi di luar sana.”
“Tenanglah, aku hanya mencoba untuk membangunkanmu dari ranjangmu, oke? Berangkatlah bekerja. Carilah uang. Jalanilah hidup. Kaum kapitalis tak akan menjejalkanmu uang begitu saja.”
Dari ranjangnya, Jack menatap Brimwood perihatin. Lelaki itu pantas mendapatkan simpati. Ia memiliki sebuah pekerjaan, yang akan membuatnya kaya nantinya. Tapi sekarang mereka hanya dua lelaki yang tak sadar telah tersesat dalam arus kehidupan yang terus menggerus. Tiba-tiba saja mereka berada di sana, dua lelaki yang merasa himpitan masalah kehidupan sehari-hari merupakan beban berat yang harus mereka jinjing, tanpa tahu harus ke arah mana mereka berlari. Brimwood boleh saja menemukan arahnya sendiri, namun beberapa hari ini ia baru kehilangan hal tersebut.
“Berengsek orang-orang di pengadilan itu, seenaknya saja mereka menunjukku sebagai pengacara Marco Daffin. Alih-alih menjadi pengacaranya, dibayar tiga kali lipat sebagai pengiringnya pun aku tak sudi!” keluh Brimwood.
“Marco Daffin?”
“Pembunuh berantai itu. Apa kau tidak mendengar beritanya?”
Jack memonyongkan bibirnya sembari mengangkat tinggi kedua alisnya. “Telivisinya mati lagi. Apa yang kau harapkan?”
“Sialan! Sudah tiga kali kutelepon tukang servis sialan itu!” dengus Brimwood sambil mengangkat kaki keluar dari ranjangnya. Kemudian, ia segera masuk ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Suara Jack masih terdengar di sana.
“Hei, John, kau tahu apa yang dilakukan para pembunuh berantai itu di waktu senggang?”
“Apa?”
“Mereka mengoleksi jari korbannya dan menaruhnya perlahan di sebuah wadah yang aman. Sama seperti ibuku mengoleksi perangko-perangko langka yang dibelinya dari pelelangan.”
“Aku yakin jari-jari itu disimpan untuk membantu mereka melakukan perhitungan,” guyon Brimwood ketika ia keluar dari kamar mandi, dengan handuk putih bersih yang digunakannya untuk mengeringkan wajahnya. Kali ini ia bergegas mendekat ke arah lemari. Dengan perlahan ia membuka pintu lemari itu, dan mendapatkan hal yang asing baginya. Lucu. Ia tak mengingat ia memiliki jaket kulit di sana. Dan ia pun tak ingat Jack memiliki jaket kulit seperti itu. Sempat ia berpikir kawannya itu membeli jaket kulit baru untuk berpergian di kala angin luar tak bersahabat dengan tubuhnya. Tapi bagaimana ia bisa membeli jaket jika ia sendiri tak memiliki pakaian yang cukup tebal untuk melindungi dirinya dari terik matahari sebagaimana yang Brimwood sarankan? Brimwood hanya menghela napasnya samar, dan memilih untuk membiarkan perkara sepele ini tetap tersembunyi di balik dinding. Ia menggeser jaket kulit itu, dan mengambil setelan jas yang menggantung di lemarinya.
“Yeah, aku juga yakin bagi mereka jari-jari itu lebih bermanfaat daripada sempoa,” Jack tertawa kecil, mengambil jeda di antara tawanya. Kemudian, setelah tawanya reda, ia melepaskan kacamata bacanya dan menaruhnya di meja kecil di sebelah ranjangnya, bersamaan dengan catatan kecil dan pena bertinta merahnya. “Ceritakan kepadaku tentang kawanmu Marco Daffin ini. Apakah ia tipe pembunuh yang mengoleksi jari-jari korbannya untuk menghitung?”
“Entahlah, Jack. Kurasa tak ada yang perlu kuceritakan. Hei, apakah doktermu sudah memeriksamu?”
“Belum, tapi kuyakin ia akan datang jam sembilan nanti.”
“Well, sepertinya kau akan segera baikan jika ia mendatangimu,” Brimwood mengenakan dasinya dengan gerakan sembrono dan buru-buru. Itu adalah kebiasaan buruknya yang tak bisa ia hilangkan begitu saja. Toh bagaimanapun cara dasi bergelantungan di lehernya, ia tetap saja nampak seperti pengacara kebanyakan. “Kau cepatlah sembuh. Aku tak sudi membayar semua tagihan-tagihan sialan itu. Dompetku lebih memprihatinkan daripada keadaanmu sekarang.”
“Jangan kau tagih hal yang tak pasti seperti itu, kawan. Tapi aku akan sembuh segera. Kujamin itu,” gerutu Louis.
“Sebaiknya kau benar, kalau tidak aku sendiri yang akan melemparmu keluar dari ranjangmu.”
Jack Louis menerimanya sebagai lelucon. Padahal wajah Brimwood sama sekali tak mengundang tawa. Ia serius, akan tetapi seberapa besar Jack mencoba untuk menghentikan tawanya, ia malah akan tertawa lebih gelak lagi.
Dasinya sudah terpasang. Kemejanya sudah rapi. Dan Brimwood langsung mengenakan jas berwarna kremnya. Ia mengeluarkan sepasang sepatu cokelat gelap dari dalam susunan rak, mengenakannya sembari duduk di atas ranjangnya sembari menyiulkan nada lagu kesukaannya.
Tawa Jack makin lama makin terasa ringan, hingga akhirnya benar-benar berhenti. Kini ia menulis lagi, dengan kacamata menggantung di atas tulang hidungnya.
Brimwood tak langsung berangkat kerja. Namun sekali lagi terpaku pada kaca jendela hitam besar yang ada di hadapannya sekarang. Entah mengapa, setiap kali ia melihat jendela itu, ia merasa awas. Matanya terus mencari-cari celah untuk menembus permukaannya yang licin. Namun di sisi lain terlalu gelap. Bahkan jika ia menerawang pun, masih tak tertembus sebab kaca itu memiliki ketebalan yang tak kurang dari tebal buku catatannya sendiri. Setiap kali ia menatapnya, maka kali itu pula muncul pertanyaan di benaknya, ada apa sesungguhnya di balik kaca itu. Sungguh bisa mati ia jika pertanyaan itu tak segera terjawab dalam benaknya.
Kawannya yang tergeletak sakit itu pernah mengatakan bahwa ruangan di sebelah adalah gudang kosong. Mereka menaruh barang-barang tak berguna untuk disimpan di sana. Tapi bukan itu yang dikatakan Jack. Pernah ia bergurau tentang gudang sebagai tempat barang jarahan, atau tempat penculikan yang sering digunakan oleh para profesional. Katanya, seberapa keras seorang tahanan korban penculikan berteriak minta tolong, suaranya hanya akan memantul di dalam ruangan gudang itu kembali kepadanya. Sungguh ironis, tambahnya. Tapi Brimwood tak akan terlena dengan mudah dengan bualan macam itu. Malah bualannyalah yang terkadang melena alam khayal Jack.
“Pernahkah kau merasa, setiap kali kau awas, ada yang memperhatikan gerak-gerikmu?” gumam Brimwood, matanya tak lepas dari jendela berkaca hitam itu. Yang ia lihat, hanyalah pantulan wajahnya sendiri.
“Tentu. Aku adalah katolik yang taat. Aku yakin Ia selalu memperhatikan gerak—“
“Bukan, bukan itu maksudmu. Sesuatu yang lebih kecil daripada Tuhan. Akan tetapi memiliki cukup kekuatan untuk mengendalikan hidupmu?”
“Maksudmu pemerintah? FBI? CIA?”
“Siapa tahu. Aku memiliki daftar untuk dicurigai. Tapi entah mengapa semakin aku memikirkan hal ini, maka semakin konyol kudapati diriku.”
“Hei, bajingan, apa kau bermimpi? Orang bodoh mana yang mengawasi gerak-gerikmu?”
Brimwood hanya membalas Jack dengan senyum misteriusnya.
“Hati-hati, kawan. Aku tak pernah bermimpi.”
***
Di ruangan kosong itu—kecuali sebuah meja dan asbak di atasnya, serta sepasang kursi yang saling berhadapan—Brimwood duduk menunggu. Tangannya menari-nari di atas permukaan meja kayu itu, menghasilkan ketukan berirama, sekedar untuk menghilangkan penat.
Sesosok pemuda yang sebaya dengannya masuk lewat pintu yang baru saja di buka. Ia mengenakan baju tahanan, dan tangannya diborgol. Di belakangnya, ada seorang pria berseragam.
“Itu pengacaramu,” ujar pria berseragam itu, kemudian pergi dan menutup pintunya. Ia menunggu di luar.
Marco tersenyum, dan Brimwood mempersilahkannya duduk. Namun pria itu hanya berdiri kaku dimana polisi tadi meninggalkannya.
“Aku telah membaca berkali-kali berkasmu. Namaku John Brimwood. Dan mulai sekarang aku yang akan menangani kasusmu,” Brimwood mengambil jeda. “Duduklah, agar kita bisa membicarakan hal ini.”
“Kita tak akan membicarakan hal ini. Aku menginginkan pengacara yang lebih bagus darimu.”
“Kau tak punya pilihan, duduklah!” perintah Brimwood setengah dongkol.
Senyum itu langsung menghilang dari wajah Marco. Ia mengambil duduknya dengan wajah yang tertekuk. Antara marah dan muram, Brimwood tak bisa memastikan ekspresi di wajahnya.
Brimwood mengambil jeda, memandangi wajah dingin Marco. Ia membayangkan enam korban yang dibunuh pria itu dengan sadis, dimanakah penyesalan yang seharusnya ada dimatanya?
“Kau membunuh enam orang dalam tiga bulan terakhir. Tapi motif yang kau katakan sebelumnya sangat tak jelas dan tak kuat. Sekarang, Marco, jika kau ingin aku meringankan hukumanmu, kau harus jujur padaku.”
“Aku tak ingin kau meringankan hukumanku. Aku ingin kau membebaskanmu.”
“Tak bisa, kawan. Mereka sudah membuktikan kesalahanmu di lapangan.”
“Tapi bukti-bukti itu akan lenyap bersamaan dengan mayat-mayat yang kubuang—mereka akan kembali ke asal mereka tanpa meninggalkan jejak dalam perkaraku dan saat itulah kau menyaringnya agar aku bisa segera bebas.”
Brimwood mengerutkan alisnya. “Apa maksudmu?”
Jeda mengundang keheningan. Untuk sesaat mereka saling bertatapan mata. Mata Marco, sangat misterius bagi Brimwood. Pria itu menyimpan banyak rahasia yang menarik untuk diungkap. Akan tetapi entah mengapa Brimwood tahu ia tak bisa menggapai rahasia itu. Tapi bukan itu yang membuat Brimwood tertarik sekaligus heran. Ada semacam kelebatan siluet yang mengundang perasaan ganjil di benak Brimwood ketika ia menatap mata pembunuh yang usianya sebaya dengannya. Perasaan ini bukanlah perasaan sepele yang dapat dibuang begitu saja—mungkin saja ia akan mengingatnya untuk waktu yang lama dan terkadang terganggu olehnya.
“Mr. Brimwood—“
“John, panggil aku John.”
“Mr. John, apakah di dalam tidurmu—maksudku, di dalam mimpimu, kau menyadari bahwa kau sedang bermimpi, dan pada saat itu kau tahu semua yang kau lakukan tak berarti apa-apa ketika kau terbangun?”
“Maaf, kawan. Tapi aku tak pernah bermimpi.”
Mulut Marco menganga. Alisnya naik hingga saling bersentuhan satu sama lain.
“Kau tak pernah bermimpi, sama sekali tak pernah?”
“Seumur hidupku.”
Sekejap Marco mengeluarkan senyum canggungnya. Ia bergerak tak karuan di atas kursinya, hingga akhirnya berdiri dan memberi salam.
“Well. Kalau begitu aku tak memerlukan pengacara untuk mendampingiku di pengadilan. Terima kasih atas waktumu yang berharga, Mr. John. Selamat pagi.”
“Kau tak akan pergi kemana-mana sebelum kita membicarakan semua ini. Kembalilah, berengsek!”
Belum sempat Marco sampai ke pintu, ia kemudian menoleh ke arah Brimwood.
“Kita sudah membicarakan ini, Mr. John. Kita sudah selesai. Aku ingin kembali ke selku.”
“Tidak. Kau tak akan kemana-mana sebelum kau mengatakan kepadaku motifmu yang sebenarnya.”
“Baiklah, jika itu bisa membantuku jauh darimu,” ia menghela napasnya. Membuat jeda. “Kau tahu, Mr. John? Kita semua tengah bermimpi. Kau dan aku, kita hidup di dalam dunia mimpi kita masing-masing. Alasan mengapa kita takut melakukan hal yang tak boleh kita lakukan, adalah karena kita tak sanggup menerima konsekuensinya di kemudian hari. Tapi Mr. John, tahukah kau semua hal itu akan lenyap ketika kau membuka matamu?”
“Maksudmu kau membunuh enam orang karena kau percaya kau tengah bermimpi dan kau percaya, setelah kau terbangun semua akan baik-baik saja?”
Marco tersenyum. “Bukankah itu yang kita lakukan jika kita sadar kita tengah bermimpi? Kita memiliki kontrol terhadap mimpi kita—lakukan apa yang kita ingkinkan dan semua akan kembali normal ketika kita terbangun di atas ranjang kita yang hangat.”
Brimwood tak menjawab. Kemudian pintu ruangan itu terbuka, dan Marco digiring keluar oleh petugas polisi tadi.
Ia sendirian lagi. Tapi kini ia tidak sedang menunggu. Ia mengeluarkan satu bungkus rokok, dan mengambilnya sebatang. Dengan kesal ia menyalakan pemantiknya. Tak menyala dalam percobaan yang pertama, kedua dan ketiga. Ia mendengus, dan pemantik itu sekejap menyala dengan jempolnya.
Asap rokok berhembus, mengalir merdu keluar dari lubang hidungnya.
“Sialan,” desahnya kepada asap rokoknya sendiri. “Psikopat gila sialan!”
***
“Semakin hari semakin banyak saja pembunuhan,” gumam John. Tangan kirinya memegang lipatan koran yang tengah ia baca dan tangan kanannya memegang burger yang potongannya tengah dikunyah dalam mulutnya.
“Mereka tak terkendali, dan kota yang lembap ini adalah tempat yang sangat baik untuk perkembangan jamur seperti mereka,” balas seorang pria bertubuh gemuk dari dalam kios. Ia tengah menggelar koran dagangannya yang baru saja buka pagi ini. Jam tangan Brimwood menunjukkan pukul sembilan. Dan rasanya terlalu siang untuk membuka kios di pagi ini. Tapi ia sendiri mengerti jadwal Malbourne, pedagang tersebut. Pada jam-jam seginilah saat yang paling ramai jalan itu dilalui pejalan kaki. Brimwood tak ingin berdebat akan hal itu, akan tetapi ia meragukan insting Malbourne. Insting yang membuat pria gemuk itu tetap miskin selama bertahun-tahun.
“Hei, Malbourne, aku sedikit kekurangan uang di sini. Bisakah kau menambah koran dan burger ini ke dalam kasbon?”
“Tak masalah, John. Tapi ingat, ketika jas dan dasi itu membantumu untuk ‘riding the gravy train’, maka hutangmu akan bertambah dua kali lipat.”
“Gravy train pantatku. Ini semua lelucon. Dasi ini, jas ini ... mereka bahkan tak pernah memberikan klien yang waras kepadaku. Kau tahu apa yang akan kulakukan? Aku akan membuka praktek hukum. Menjadi konsultan. Kemudian sukses dan berkeluarga. Tetapi sepeser pun aku tak punya!”
“Kau tahu ini hanyalah benturan sesaat. Lagipula, tak mungkin semua klienmu itu tak waras. Katakan, siapa yang kau bela sekarang?”
“Kau tak akan percaya jika aku mengatakannya.”
Malbourne menghentikan aktifitasnya. Handuk kecil yang ada di tangannya langsung digantung di pundak kanannya.
“Katakan, kawan. Jangan ragu. Penyakit jantungku belum begitu parah.”
“Marco Daffin. Marco-FUCKING-Daffin.”
Malbourne terbelalak. Warna di wajahnya langsung lenyap, tergantikan warna pucat putih kertas. Ia maju tiga langkah, mencondongkan telinganya ke arah Brimwood. “Marco Daffin sang penjagal itu?”
“Bajingan nomor satu di kota ini,” komentar Brimwood setengah tak acuh.
“John! Kudengar ia adalah seorang kanibal!”
“Jangan dengar omong kosong macam itu. Ia adalah seorang pembunuh psikopat, tetapi bukan berarti ia kanibal. Kau pikir ia siapa? Dr. Hannibal Lecter?”
“Entahlah, tapi bisa saja ia murid si Lecter itu. John, apakah kau sudah meminta agar mereka menggantikan posisimu?”
“No, no! Mereka tak akan memberikan kesempatan itu. Seberapa menyedihkan kau memelas pun mereka tetap tak acuh.”
“Mengapa?”
“Mengapa? Tentu saja karena mereka semua bajingan. Mencari uang sebanyak mungkin dan melemparkan risikonya kepada John tak berguna ini. Persetan!” Dengan kesal Brimwood menendang udara kosong. Malbourne hanya mengerutkan keningnya ketika cahaya pagi menerpa wajahnya yang berminyak.
“Kau percaya pada nasib, John?” tiba-tiba kata itu yang keluar dari mulut Mal, tanpa ia sadari, tetapi bisa sedikit menenangkan John.
Untuk sesaat Brimwood tertegun. Berusaha untuk mengembalikan napasnya yang terengah-engah karena emosi. “Apa?”
“Nasib.” Malbourne mengeluarkan sepasang kursi, mempersilahkan Brimwood mengambil satu dan yang sisanya untuknya duduk. Mata mereka mengamati alur lalu lintas, namun telinga dan bibir mereka diklaim oleh percakapan hangat dua pria di pagi hari itu.
“Aku pernah memiliki seorang teman lama yang dikira gila oleh kebanyakan orang—termasuk diriku. Ia tak pernah berprestasi dalam pelajaran. Dan ia tak pernah terbuka kepada siapa pun. Ia memiliki pengalaman yang buruk saat kecil, dan aku adalah satu-satunya teman yang ia miliki. Menyedihkan jika mengingat masa lalu seperti itu, tapi aku ingat, ketika pernah ia berkata bahwa dirinya sendiri gila,” Malbourne tak mampu menahan gelaknya, sedang Brimwood hanya tersenyum melihat pria gemuk itu mengusap wajahnya yang berkeringat dengan handuknya sembari menunggu ceritanya berlanjut. Pria gemuk itu mendesah. “Masa-masa yang begitu sulit untuk dilupakan,” ia mengambil jeda sesaat. “Well, pada saat itu ia mengatakan, hampir mustahil untuk mengakui ketidakwarasan diri sendiri. Tapi ia melakukannya. Ia sadar ia tak dapat mengatakan apa yang ia pikirkan kepada orang lain, tetapi ia tahu persis apa yang ia harus katakan pada dirinya sendiri. Kemudian ia mempelajari dirinya sendiri, gangguan mental yang ia alami, dan lumba-lumba memberikan mukjizat, ia sekarang menjelma menjadi psikiater terkenal!”
Brimwood mengangguk, seraya menyimpulkan senyum kecilnya.
“Dan suatu hari,” jeda, suaranya terpotong. Sepertinya Malbourne tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Tapi ia sebisa mungkin terlihat riang. “Suatu hari ... ia datang ke kiosku. Memberikan senyum terbaiknya dan membeli sebotol air mineral. Dengan wajah usang itu ia berkata, ‘Malbourne kawanku, aku sudah sukses sekarang. Bagaimana denganmu?”
Ada kebanggaan yang tersirat di wajah Malbourne. Matanya berkaca-kaca saat ia mencondongkan dadanya.
“Kemudian aku membalas, ‘persetan! Kios ini tak membawaku kemana-mana’. Lalu ia tak berkata untuk sesaat. Mengurai senyum lebar yang hanya membawa nostalgia masa lalu. ‘kau percaya pada nasib?’ tanyanya. Lalu kujawab, ‘ya’. Maka ia mengatakan jika aku percaya pada nasib, maka peganglah teguh prinsip itu. Akan tetapi jika aku tak percaya, maka aku harus menikmati perjalanan hidup ini tanpa harus melihat ke depan. Ia tak percaya pada nasib, dan ia tak memusingkan masa depan. Baginya hidup ini bukanlah tentang tujuan, melainkan petualangan yang ia alami ketika menjalaninya. Persetan, aku tak sependapat dengannya.”
“Dan rentang jarak keberuntungan kalian sangat jauh,” komentar Brimwood, mengundang kikik kecil Malbourne.
“Sure! Ia lebih beruntung daripadaku. Sedangkan aku tak maju-maju dengan kios kecilku ini,” ia menghela napas panjang. Brimwood kini merasakan kepedihan di hembusan napas pria itu. “Sering aku membayangkan diriku menutup kios ini, dan mencari pekerjaan baru. Tapi siapa yang mau menerima pria tak berpendidikan sepertiku? Mereka hanya memperlakukanku lebih buruk lagi. Dan aku berpikir ... jika aku menutup kios ini, aku hanya membohongi diriku sendiri, membohongi jawaban yang pernah kuberikan kepada kawanku itu dulu. Mungkin jika yang kujawab padanya waktu itu adalah ‘tidak tahu’, kita tak akan duduk di trotoar seperti ini.”
“Dan kau menyesal?” tanya Brimwood berhati-hati.
“Menyesal? Tentu saja tidak. Aku bukanlah seseorang yang langsung mengubah keluh kesahku menjadi bongkahan dendam. Aku percaya pada masa depan, pada nasib, ingat? Aku percaya di setiap aku mengawali hariku, masa depanku akan lebih cerah lagi,” baru kali ini wajah Malbourne nampak begitu cerah. Mata yang berkaca-kaca kini mulai berlinang, memandangi burung-burung di angkasa yang berkicau membawa kabar kosong kepadanya. Ia menangis, namun tak bersuara. Air mata itu hanya membawa kedongkolan bagi Brimwood.
“Omong kosong! Jika kau hidup sekarang, maka esok hari adalah masa depanmu. Dan jika kau hidup di esok hari, maka esoknya lagi adalah masa depanmu. Kau akan terjebak dalam siklus itu, kawan, dan apa yang akan kau lakukan? Menunggu masa depan hingga ajal menjemput?”
Malbourne merundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang sudah terlanjur terkuak. Ia tak langsung menjawab Brimwood, melainkan menatapnya dengan tatapan yang begitu pedih. Amat menyayat. Hingga-hingga Brimwood menyesal mengeluarkan perkataan sarkastik tadi.
“Mungkin saja. Mungkin saja aku akan menunggu masa depan hingga jantungku berhenti berdetak.”
“Dengar Mal, bukan maksudku menyinggungmu—“
“Jangan terlalu dipikirkan,” Malbourne menukas seraya mengusap air matanya dengan handuk yang ada menggantung di pundaknya. “Lagipula yang tadi itu tak lebih dari omong kosong.”
“Oh, tidak seperti itu! Yang tadi itu cukup menarik. Jika seseorang menyanyakan hal yang sama kepadaku, maka aku akan menjawab ‘tidak tahu’.”
“Oh, ya. Mengapa?” Malbourne mulai kehilangan daya tariknya terhadap percakapan yang dimulainya sendiri. Namun ia berusaha menyembunyikannya. Brimwood tahu itu.
“Kupikir orang-orang yang percaya pada nasib hanya untuk mereka yang memiliki sikap idealis. Tuhan tahu persis aku bukan orang yang seperti itu. Dan juga, bukannya aku menginginkan masa depan, tetapi aku muak pada masa sekarang. Sekarang kehidupanku tengah terpuruk.”
“Bersabarlah. Seperti yang kukatakan tadi, kau tengah mengalami benturan sesaat. Nanti juga semua akan berjalan lancar.”
“Mungkin saja.”
Kemudian keadaan menjadi hening. Malbourne mengusap-usap wajah dan tubuhnya yang berminyak karena sinar matahari pagi, sedang Brimwood asyik menghitung mobil yang lalu lalang di hadapannya. Mereka tak memiliki topik untuk diangkat menjadi percakapan kembali. Mati suri. Keadaan kala itu benar-benar mati suri.
Hingga Brimwood teringat sesuatu yang tadi ingin ia katakan kepada Malbourne.
“Kau tadi mengatakan kawanmu adalah psikiater terkenal?”
“Ya. Tentu saja. Ia yang terbaik di negara bagian ini.”
“Siapa namanya?”
Dengan senyum yang tak tertahankan, Malbourne berkata dengan bangga, “Dr. Ralph Stanley.”
“Kau pasti bercanda!”
Pria gemuk itu berkikik. “Tidak, aku tak bercanda. Ialah orangnya.”
“Kau anak haram! Mengapa tak kau katakan kepadaku sejak tadi? Ia adalah psikiater yang berada di urutan teratas di dalam daftar psikiater yang harus kutemui!”
“Kau sedang membutuhkan psikiater?”
“Tentu—maksudku, tadinya. Aku sudah menghabiskan uangku untuk tiga psikiater lainnya. Dengar, Mal, kawan kita Marco Daffin ini, ia memiliki gangguan mental yang membuat kepalaku pening sendiri. Psikopat aneh itu mengatakan sesuatu yang ganjil kepadaku, dan ketika tiga psikiater memeriksanya, mereka menyatakan ia sehat hanya dalam dua puluh menit dan menyatakan mereka sudah final dengan keputusan mereka. Anak-anak jadah! Kudesak pun mereka tak mau memeriksanya ulang.”
“Kau menghabiskan uangmu untuk membayar para psikiater sialan itu?”
“Tentu. Orang-orang pengadilan tak akan menerima pengacara yang tak ingin bermodal. Setidaknya seperti itu yang kutahu.”
“Sialan. Sebaiknya kau mengunjungi Ralph, kuyakin ia dapat membantumu.”
“Maaf kawan. Uangku benar-benar habis. Tak ada sisa untuk kawanmu itu.”
“Datang saja kepadanya. Katakan bahwa kau memiliki klien gila dengan gangguan mental yang menarik untuk diteliti, juga katakan bahwa aku yang menyarankanmu mendatanginya. Jika ia menagih uang kepadamu, maka aku akan segera menghapus semua hutangmu, yang kuyakin jumlahnya dua kali lipat dari tarif praktek yang dikenakan Ralph.”
***
<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>