Tiga Mimpi: Bagian 2



BAGIAN 2 - Ralph Stanley

HAMPIR dua bungkus rokok habis ia hisap. Puntungnya memenuhi asbak di meja kecil yang sedatar dengan kursi yang tengah ia duduki. Brimwood mendapati dirinya terhibur melototi sosok-sosok berseragam polisi yang lalu lalang di hadapannya. Padahal ia sendiri tengah menunggu seseorang.

Pengacara itu terbatuk-batuk pada rokok terakhirnya. Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Lima jam sudah Dokter Ralph menanyai Marco. Mungkin saja ia senang dengan hal itu. Ia tahu kinerja Dokter Ralph tidak akan mengecewakan, ditambah dengan biaya kosong yang harus ia keluarkan. Akan tetapi, ia benar-benar lelah. Seharusnya ia sudah pulang tadi, atau makan siang. Namun ia takut jika ia tak ada saat Dokter Ralph selesai dengan tugasnya. Itu akan menjadi pengalaman yang tak nyaman baginya, sebab terkesan bahwa ia adalah klien yang tak tahu diri. Ia ingin melempar jauh imaji itu. Terutama jika ia tengah berhadapan dengan seorang profesional seperti Dokter Ralph Stanley.

Sesosok pria paruh baya berkacamata dengan tubuh yang kurus dan rambut yang telah berubah abu, keluar dari ruang yang ditunggu-tunggu oleh Brimwood. Ia mengenakan sebuah kemeja putih bersih dengan jas biru laut yang membalutnya. Melihat sosok itu, mendadak tubuh Brimwood menjadi tegak, langsung menghampiri sosok itu.

“Bagaimana Dok? Apa pendapat anda tentang psikopat itu?” tanya Brimwood dengan wajah penasaran.

“Ia bukanlah psikopat,” jawab Dokter Ralph cepat, bernada ramah. “Kau lihat, Brimwood, pembunuh berdarah dingin yang kau maksud membunuh karena mereka tak memiliki empati kepada korban-korban mereka sehingga setiap pembunuhan yang mereka lakukan tak menimbulkan efek psikologis terhadap keseimbangan psikis mereka. Tapi Marco ini, ia memiliki guncangan di kepalanya. Ada semacam ide di kepalanya yang membuatnya melakukan pembunuhan tanpa merasakan penyesalan setelahnya. Ide yang mempengaruhi dan merosot empatinya kepada individu lain.

“Begini saja. Aku ingin kau menemuiku dikantorku nanti,” ia mengeluarkan kartu namanya, memberikan kepada Brimwood dengan sopan. “Kita akan diskusikan lebih lanjut tentang hal ini.”

Kemudian Brimwood terpaku pada kartu itu. Dokter Ralph hanya tersenyum. Beberapa saat kemudian, ia mohon pamit dan Brimwood menjabat tangannya. Lalu setelah saling membalas senyum, ia memulai langkahnya meninggalkan lorong itu. Meninggalkan Brimwood sendirian.

***

"Kau datang," sambut Dokter Ralph. "Masuklah!"

Psikiater paruh baya itu membuka pintunya lebar-lebar, mempersilahkan pengacara muda yang kewalahan menahan dinginnya udara malam yang menggedor-gedor kulitnya dengan terlapiskan setelan jas krem. Ia menaruh tas jinjing kulitnya di sebuah meja kecil, kemudian Dokter Ralph mengajaknya masuk ke dalam ruang yang lebih dalam lagi. Sepi benar kantor itu. Ruangannya pun tak tertata mewah seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Kursi-kursi dan sofa adalah furnitur yang tak bermerek, berjejer di ruang tunggu yang sebenarnya sepi namun tertata sangat rapi dan hati-hati. Ada beberapa kembang dalam lorong yang semuanya berwarna dominan hijau, namun ada juga beberapa yang memiliki bunga berwarna biru dan merah. Dari ruangan yang cukup jauh dari ia berdiri, tercium bau pengharum ruangan yang amat menusuk hidung. Sempat Dokter Ralph menyadari cuping hidung Brimwood yang mengerut-ngerut, maka ia mempercepat langkahnya masuk ke ruangan pribadinya, kemudian menutup pintu ketika Brimwood melangkah masuk. Sepertinya Ralph terlampau khawatir dengan indra penciuman kliennya yang sangat sensitif.

Dokter Ralph menyalakan AC ruangan itu dengan remote yang ada di mejanya, kemudian ia menarik sebuah kursi untuk dihadapkan ke arah mejanya. "Kau tak mengapa?"

Brimwood langsung menghapus peluh yang mengenang di pelupuk matanya ketika ia sadar psikiater itu menyadari sesuatu yang salah dengannya.

"Saya tak apa-apa. Hanya teringat nostalgia masa kecil ketika mengendus pengharum ruangan tadi," pengacara muda itu memegang kepalanya, seakan ada yang salah dengan benda itu. "Saya bahkan tak mampu mengingat tentang apa nostalgia itu. Yang saya ingat hanyalah aroma pengharum yang menusuk hidung saya saja. Boy! Saya yakin itu sudah lama sekali," ia sempat mengurai senyumnya, sembari tertawa kecil mendapati seberapa konyolnya dirinya mengingat hal yang tak penting seperti itu. Namun ia tak dapat menyembunyikan bola matanya yang berkaca-kaca. Ada gelombang emosional yang nampak dari situ.

"Kau berasal dari Vichte City?" tanya Ralph, hendak berbasa-basi.

"Ya. Saya yakin saya dari sana."

"Duduklah," ajak Dokter Ralph. Mereka kemudian mengambil duduk mereka masing-masing. Psikiater itu duduk di kursi yang ada di belakang meja kerjanya.

"Banyak hidung orang-orang tua Vichte City yang tak bisa lepas dari bau itu. Kau tahu, dulu aku sering bermain-main ke ruangan ayahku. Dimana bau pengharum ruangan itu amat pekat dan menyesakkan hidung. Jika kau datang ke sana untuk pertama kalinya, kuyakin kau akan segera mencari jalan keluar dengan mata berarir."

Brimwood tertawa kecil. Dan psikiater itu hanya tersenyum di balik guratan keriputnya.

Kemudian Ralph menghembuskan napas kuat-kuat. "Belasan tahun menghirup aroma itu membuatku tak bisa lepas darinya. Kau tahu, seperti rokok, obat-obatan, minuman."

"Saya mengerti," balas Brimwood, sambil tersenyum. "Saya pun merasakan hal yang sama."

Wajah Ralph menunjukkan keterkejutan. "Apa kau menggunakan pengharum yang sama di rumahmu?"

"No, no. Maksud saya, saya tak ingin menggunakannya, hanya terasa pilu jika demikian. Anda tahu, aroma itu membangkitkan lagi memori masa kecil saya, tapi saya sama sekali tak memiliki gambaran tentang memori itu. Itu adalah perasaan tak menyenangkan yang ingin saya hindari."

"Kau pasti menebak-nebak memori tersebut, namun kegagalan membuatmu merasa sedih? Entah mengapa kau mengingatkanku tentang mimpi yang akan kita bicarakan."

Di balik dasi dan setelan rapinya, Brimwood mulai tersenyum canggung. Ia menarik kursinya maju, kemudian menatap mata dalam mata Dokter Ralph.

"Semoga anda memaafkan sikap tak profesional saya. Tapi saya sedang tak ingin membicarakan masalah mimpi sekarang. Langsung saja kita masuk ke perkara Marco ini."

"Aku menghabiskan lima jam waktuku di kantor polisi hanya untuk memastikan ia benar-benar mengatakan tentang mimpinya kepadamu, dan kau tak ingin membicarakan tentang itu?"

“Bisa kita lompati saja masalah itu. Memang seberapa pentingnya masalah mimpi ini?”

“Tentu saja penting! Tidakkah kau menyadari? Kau menyewa tiga psikiater, tak satu pun dari mereka yang bertahan lebih dari dua puluh menit ketika memeriksa Marco. Bahkan salah satu dari mereka berbisik kepada kawannya bahwa kau gila, aku tahu itu. Kau tahu mengapa mereka begitu?”

“Karena mereka semua bajingan. Itulah jawabannya.”

“Tidak, John! Semua ini karena Marco adalah aktor yang handal. Ia memiliki kharisma. Psikis yang tenang. Lidah yang licin. Dan mental yang luar biasa stabil. Aset berharga yang hanya dimiliki seorang psikopat untuk menyamarkan dirinya dalam sebuah komunitas.”

Pengacara itu langsung memiringkan kepalanya. Alisnya berkerut, dan cukup lama kata-katanya tertahan di balik bibir. “Anda tadi mengatakan bahwa ia bukan seorang psikopat.”

“Jangan di bawa serius, yang barusan hanya analogi.”

Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sepasang gelas dan sebotol brandy. Dengan perlahan ia menuangkan brandy itu ke dalam gelas pertama, menyodorkan kepada Brimwood, dan menuangkan gelas lain untuk dirinya sendiri.

“Jadi katakan, mengapa kau tak ingin membicarakan masalah mimpi?”

Brimwood meneguk brandy-nya.

“Saya hanya tak pernah bermimpi. Itu saja.”

Dokter Ralph tercengang. Di atas kacamatanya, alisnya berkerut.

“Kau tak pernah bermimpi?”

“Bajingan Marco itu hanya membuatku iri,” aku John Brimwood.

Sesaat Dokter Ralph tak bergeming. Ia merundukkan kepalanya, mencoba untuk berpikir.

“Brimwood ... apa kau tahu ada yang salah dengan kepalamu?” tanya Stanley berhati-hati.

“Seperti apa?” tanya Brimwood.

“Seperti kepala Marco. Tak ada yang tak pernah bermimpi. Mimpi adalah sesuatu yang alamiah, aktifitas bawah sadar yang tak bisa kau tolak ketika kau tengah terlelap. Jadi seharusnya kita membicarakan ini pelan-pelan, karena aku bersedia tak dibayar untuk meluruskan semua ini.”

“Thanks, Dok. Tapi saya tak perlu kontrak untuk yang dua kali.”

Wajah Dokter Ralph datar. Pandangannya lurus menusuk pengacara muda yang ada di depannya, yang tengah kikuk memainkan gelas di tangannya sebab ditatap oleh seorang psikiater sungguh membuatnya merasa tak nyaman.

“Aku memaksa,” Dokter Ralph meneguk brandy yang ada di tangan kanannya.

“Dengar, Dok—“

Wajah Ralph Stanley langsung berubah kasar, suaranya terdengar lebih tajam. “Dengar saja penjelasanku! Kau tak akan merugi,” ia membanting keras kaki gelas ke permukaan meja, kemudian mengambil jeda seraya menghela napasnya. Brimwood yang diam tak bergeming dibuat skak mat olehnya.

“Bagus,” desahnya sembari membaringkan punggungnya di sandaran kursi. “Aku mengerti kalau kau tak pernah bermimpi, John. Tapi sebagai profesional, kuharapkan kau mau mendengarkanku dan mengerti kondisi klienmu ini, kalau bisa kau juga mengerti kondisimu. Kau tak bisa maju ke pengadilan jika kau tak mengenal klienmu, karena kau hanya akan memberikan janji kosong yang tak bisa kau penuhi padanya.

“Temanmu ini—“

“Ia bukan teman saya,” potong Brimwood dengan nada dingin.

Ralph tertegun sesaat untuk mencerna situasi. Ia merasakan ada benih kebencian di mata Brimwood, dan ia menyesal karenanya.

“Klienmu ini,” koreksinya. “Ia memiliki semacam sugesti yang mempengaruhi keadaan psikisnya, bahwa ia tengah bermimpi walaupun ia sudah terbangun ke dunia nyata. Kau tahu itu, namun kau tak tahu seberapa kuat sugesti itu mengotori pikirannya. Jangan heran kalau ia tak akan mengenalimu keesokan paginya, sebab kepalanya akan mengira ia tengah menjalani mimpi baru, bukan hari yang baru. Dengan cerita baru seakan-akan dunia ini terbagi atas sekian banyak konflik paralel yang membangun dasarnya. Ia akan mengalami siklus itu secara terus menerus hingga ia secara sepenuhnya sadar dan memiliki keinginan untuk terbangun dari mimpi itu.”

“Jadi kita harus mengetuk kepalanya atau semacamnya?” Brimwood mulai tertarik ke dalam topik ini, walaupun hawa yang ia bawa masih terasa dingin dan kaku. Akan tetapi Dokter Ralph tersenyum sendiri melihat kemajuan itu.

“Tidak, bukan begitu,” Ralph sedikit memperbaiki arah. “Bukan kita yang mengetuk kepalanya, tapi kita harus membuatnya mengetuk kepalanya sendiri. KAU yang harus membuatnya mengetuk kepalanya sendiri.”

“Yang benar saja! Mengapa harus saya yang melakukannya?”

Ralph mulai melebarkan senyumnya. Kali ini nampak lebih ramah dan hangat. Ia melepas kacamatanya, dan mengusap wajahnya. Guratan keriput di wajahnya seakan sinar bersamaan dengan datangnya wajah riang itu. Sayang tak disambut hangat oleh sang pengacara.

“Tidakkah kau tahu seberapa besar aku berusaha untuk mendapatkan kepercayaan Marco?”

John terdiam. Tak menjawab. Matanya terpengarah ke bola mata Ralph yang pancarannya telah setengah meredup namun masih bisa dikatakan sehat. Bagaikan tersambar petir, sikap dingin Brimwood langsung melemah seraya matanya mulai berbinar-binar. Ada perasaan heran, terkejut dan terkesima yang bisa dibaca di wajah muda itu. Akan tetapi Ralph tak tahu apa yang harus ia simpulkan dari air mukanya.

“Seluruh pengalamanku dan keahlianku kukerahkan untuk mendapatkan kepercayaannya, dan ia sama sekali tak menyerah kepada pendiriannya yang mirip belut itu.”

“Itu karena ia hanya percaya pada udara kosong. Ia sendirian. Tak ada yang menyukainya dan tak ada yang ia suka.”

“Tidak, John Brimwood. Ia tak sendirian. Ia masih memiliki seseorang yang ia percayai. Kaulah orangnya. Tidakkah kau sadar? Saat pertama kali kalian bertemu, ia rela menunjukkan sisi lemahnya kepadamu. Jika tidak maka kau tak akan mengunjungi empat psikiater berbeda untuk memeriksa kondisi mentalnya, bukan? Di mata dunia ia adalah serigala buas. Akan tetapi di hadapanmu ia hanyalah seekor anjing yang memelas untuk diberikan kehangatan. Ia menyukaimu dan mempercayaimu sejak pertama kali bertemu. Akan tetapi ia hanya menunjukkannya dengan caranya sendiri. Demi Tuhan, John, kalian sudah ditakdirkan untuk saling bertemu dan memperbaiki kekurangan satu sama lain. Tak ada yang kebetulan dari semua ini. Coba saja kau pikirkan, seseorang yang tak pernah jatuh dalam buaian mimpi bertemu dengan seorang yang terjebak di dalam alam mimpinya. Bagaikan dua kutub yang bersekutu. Yin dan Yang yang bersatu. Kurasa kesempatan untuk hal itu benar-benar mustahil.”

“Sepertinya saya mulai memahami sesuatu yang spesial dari semua ini,” Brimwood tak melepaskan pandangannya dari bola mata psikiater itu. “Ketika saya menatap kedua belah matanya, saya merasakan ada hal yang berbeda yang tersirat di matanya.”

“Apa itu?” tanya Dokter Ralph penasaran.

Brimwood sekarang mulai tersenyum. Perasaan dingin yang menyengat bulu roma hilang entah kemana. Namun canggungnya, matanya malah mulai berkaca-kaca.

“Deja Vu. Saya merasakan Deja Vu. Serasa saya menjalani kehidupan yang sudah berlalu. Serasa pernah bertemu dengannya entah dimana.”

Ralph menyambut gejolak emosi positif Brimwood dengan gembira. Berpikir hal ini adalah sebuah kemajuan pesat.

“Dan apa yang kau rasakan saat itu?”

“Rasanya seperti berdiri di lapangan luas. Semuanya nampak hijau dan asri. Dada saya hampir meledak merasakan kepulan rasa bahagia masa kecil. Di tangan saya ada sebuah katapel, dan di kantong saya penuh bongkahan kerikil sebagai proyektilnya. Dan yang paling mengena, ada suara riang Marco di sana, mengajak dari kejauhan untuk ikut bermain bersamanya. Tapi saya tak dapat menemukan wajahnya dimana-mana. Semua yang tergambar hanya rerumputan hijau dan cakrawala biru. Pemandangan yang hanya bisa saya lihat di Vichte City. Dari sana saya terus yakin Marco berasal dari Vichte City juga. Namun entah mengapa ego saya yang terlanjur mencapnya buruk menolak perasaan itu mentah-mentah.”

“Tak mengapa. Jika kau merasakan ada ikatan batin antara kau dan dirinya. Mulailah terbiasa dengan hal itu dan kau akan tahu kemana kau harus melangkah nantinya.”

Hening. Brimwood berusaha untuk menahan tangisnya, namun peluh itu bercucur juga membasahi pipinya. Suaranya bergetar saat ia mencoba untuk menggerakan bibirnya yang gemetar.

“Dan lucunya, saya melihatnya di mata anda juga,” kata-kata ini, dengan pembawaan yang emosional dan melodramatis, langsung menusuk telak dada kiri Ralph, hampir saja menghentikan denyut jantungnya. John Brimwood. Ya, John Brimwood. Pemuda pertama yang membuat Ralph Stanley membungkam mulutnya sendiri. Pemuda pertama yang menggetarkan seluruh bulu romanya. Pemuda pertama yang mengingatkannya kembali atas keraguan antara batas rasionalitas dan ketidakwarasan.

“Anda ingin tahu apa yang saya rasakan, Dokter Ralph? Saya merasakan sebuah penyesalan yang dalam,” Brimwood mulai terisak-isak. Sedang Ralph Stanley berusaha sejantan mungkin menahan air matanya merembes keluar. “Saya membaringkan tubuh saya di sebuah ruangan gelap. Aroma pengharum menusuk hidung saya, hampir membuat saya terjaga semalaman. Dan ketika seseorang membuka pintu ... “ tangannya mulai bergetar ketika nada getirnya mulai menguasai seluruh tubuhnya. “Dan ketika seorang membuka pintu ... saya tahu saya tak sedang bermimpi tapi saya dapat merasakan kehadirannya yang semakin mendekat di antara tidur saya.”

“Ia bertanya pada saya, ‘Bagaimana harimu, nak?’ Saya tahu kemudian bibir saya bergerak. Hanya saja saya tak dapat mendengar apa yang saya ucapkan. Itu adalah igauan yang aneh, namun tak dapat dipungkiri hal itu terjadi pada diri saya. Lalu udara di sekitar saya menjadi hangat. Saat itu saya tahu ia tengah tersenyum, membelai rambut saya dengan penuh kemesraan. Seperti mimpi, tapi saya tahu itu bukanlah mimpi. Lelaki itu seakan menunggu sepanjang hari untuk melihat saya tertidur dan berbicara dengan saya. Ia bertanya bagaimana hari saya, dan saya menjawab dengan berkata—entah kata apa yang keluar dari mulut ini. Dan ia membalasnya dengan suara lirih, ‘Ayah tengah berusaha, nak.’ Setelah itu ruangan itu menjadi dingin kembali, bersamaan dengan tangisannya yang menguasai keheningan. Saya tahu saya juga ikut menangis, tapi hanya dalam hati saya. Dalam tidur saya saya merengek, melirih, dan bergetir. Tapi ia tak tahu saya ikut merasakan kepedihannya. Yang ia tahu saya hanya tertidur di bawah naungannya.”

Tentu Brimwood merasakan Deja Vu. Tapi ia tak tahu efeknya akan sangat kuat seperti ini. Udara AC sangat dingin, hampir membekukan setiap partikel udara di ruangan itu. Kemudian, entah ilmu sihir apa yang baru saja diucapkan, aroma pengharum itu langsung merembes masuk ke dalam ruangan. Apakah bau itu hanya semu? Tak nyata? Tapi Brimwood merasakannya. Aroma itu membawakan kenangan, atau mungkin saja kenangan yang membawa aroma itu. Mungkin untuk memperkuat suasana. Atau mungkin saja aroma itu hanya ada di kepalanya. Sebab sekarang ini, angannya tengah mengembara di sekitar ruangan gelap ayahnya.

“Entah mengapa Deja Vu membawa kenangan itu kembali, hanya karena saya melihat mata anda,” ucapnya dengan lirih. Di hadapannya, Ralph hanya menggigit bibirnya sendiri, berusaha sebisa mungkin menyembunyikan matanya yang memerah dan berair.

Lalu, karena angan Brimwood yang membawanya terlalu tinggi hingga ia melupakan dunia nyata, ia langsung melepaskan kata yang mengendap di dalam kepalanya. Kata yang langsung mengubah kembang-kembang di luar menjadi tak lebih dari bebatuan bisu.

“Katakan, ayah, apa yang kukatakan waktu itu? Apa yang tengah kau usahakan?”

Wajah Ralph langsung berubah. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Lelaki paruh baya itu merasakan ada kegugupan yang hebat di matanya, namun cepat sirna ketika ia mengenakan kacamatanya kembali.

“Pulanglah,” ujar Dokter Ralph dingin, namun suaranya bergetar di kerongkongannya yang basah. “Pulanglah, aku akan menutup tempat ini segera.”

“Dengarkan aku, kau ayahku bukan? Kau yang menungguku terlelap agar bisa berbicara denganku bukan?”

“Aku tak tahu apa yang kau katakan, Brimwood. Kau melantur. Sebaiknya kau pulang dan menenangkan dirimu. Pertemuan ini selesai.”

“Kau ayahku bukan? Kau ayahku? Ayahku?”

Brimwood menuntut terlalu banyak. Walaupun ia hanya bertanya satu hal yang amat sederhana, namun ia terlalu banyak menuntut dari Ralph. Ingin Ralph mengangkat tubuhnya dari kursinya, kemudian mengatakan apa yang ingin ia katakan dan mereka akan berbagi kepedihan yang sama. Akan tetapi Ralph hanya bisu di balik kacamatanya. Sedang John menangis terbata-bata di hadapannya.

“Jawab aku berengsek!” pekik Brimwood menggelegar, langsung membekukan suasana. Bahkan dengung AC dan suara lalu lalang kendaraan di luar pun berhenti. Hening. Yang terdengar hanya suara isaknya dan kebisuan Ralph.

“Bukan. Aku bukan ayahmu,” jawab Ralph Stanley, namun ia tak memandang lurus ke mata Brimwood. “Pulanglah. Carilah dokter lain untukmu nanti, kau membutuhkan satu.”

“Tidak, aku menginginkanmu yang menjadi doktermu.”

“Dengar, anak muda, kau tak akan mendapatkan apa-apa dariku. Sekarang, itu pintunya. Kau bisa berjalan keluar sekarang. Pertemuan ini benar-benar selesai.”

Brimwood tak membalas. Lelaki muda itu hanya diam di atas kursinya. Matanya yang berair dengan bara tak kurang dari lidah api yang tengah bergejolak itu masih berusaha menembus kacamata Dokter Ralph, namun sang psikiater paruh baya tak ingin membiarkan hal itu terjadi.

“Kalau begitu saya akan segera keluar dari ruangan busuk ini,” umpat Brimwood dengan nada lirih. Ia mengusap air matanya dan bangkit dari kursinya. Langkahnya pelan menuju ambang pintu.

Saat ia menapakkan kakinya keluar, ia masih sempat menoleh ke belakang. Pria paruh baya itu masih di belakang mejanya, merunduk dan menghindari kontak mata dengannya. Di dalam hatinya Brimwood mendesah dan meraung. Yang ia lihat hanyalah seorang bajingan dingin yang telah melukai hatinya. Namun ia tak sempat melihat pria yang lelah menghabiskan malam sambil menangis tersedu-sedu ketika keluar dari kantor psikiater itu.

***

<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>