Tiga Mimpi: Bagian 3



BAGIAN 3 - John Brimwood

Pengacara muda itu berhenti di sebuah toko di pinggiran jalan yang lenggang. Pria gemuk yang seharusnya menjaga toko itu tengah membereskan dagangannya. Tak seperti biasanya, Brimwood tak menyapa pria gemuk itu. Ia hanya berdiri di sana, menunggu hingga Malbourne berbalik dan menyadari kehadirannya.

“Brimwood? Apa yang? Mengapa kau nampak berantakan sekali?” Malbourne benar-benar terkejut ketika berbalik. Pengacara muda itu memang benar-benar berantakan. Dasinya tak terpasang dengan benar, melainkan hanya menggantung di pundaknya saja. Jasnya tak dikenakan olehnya, hanya menggantung di tangan kirinya. Rambutnya yang di pagi hari tersisir rapi, kini tak lagi mengesankan pria berintelek. Wajahnya sungguh muram. Malbourne mengira-ngira ada sesuatu yang salah dengan pemuda ini.

“Mal, bolehkah aku berhutang satu botol bir saja?” pinta John dengan setengah asa.

“Tentu. Jangan pikirkan hutang, nak. Yang satu ini gratis untukmu,” Malbourne langsung membuka pendinginnya, mengambil satu botol bir. Sedetik kemudian, Brimwood menegak air yang ada di dalamnya seperti orang yang terkena dehidrasi.

“Kau tak apa-apa?” tanyanya cemas.

Brimwood tak menjawab pertanyaan Malbourne. Ia hanya meminta botol yang lain ketika botol pertama habis ditegaknya. Tak ada alasan bagi Malbourne untuk kikir saat ini. Malah ia bersedia untuk tak menulisnya dalam kasbon. Pengacara muda ini benar-benar kacau, dan itu bukanlah pertanda yang baik, pikir Malbourne. Di dalam hatinya ia terus berharap hal ini tak ada sangkut pautnya dengan Ralph Stanley, kawan psikiaternya itu.

“Pernahkah kau mempertanyakan kewarasanmu sendiri, Mal?” pertanyaan itu sungguh racauan, pikir Mal. Atau setidaknya ia berharap begitu. Sungguh berbahaya jika ia tetap melanjutkan topik itu.

“Kau benar-benar tak tahu apa yang tengah kau tanyakan, kawan. Ini ambilah botol yang lain,” tawar Malbourne.

Layaknya setan, Brimwood langsung meneguk habis botol keduanya. Bersiap untuk yang ketiga. Namun ia sedikit sempoyongan kala itu. Terlalu cepat untuk mabuk bagi seorang pemuda yang tangguh sepertinya.

“Sebaiknya aku segera pulang dan langsung pergi tidur,” gumam Brimwood. “Badanku sudah tak sanggup lagi,” tambahnya.

“Kau yakin kau tak apa-apa?” cemas Malbourne.

“Ya. Aku tak apa-apa,” dusta Brimwood, seraya mengambil langkah kakinya di trotoar yang sesungguhnya sepi.

Tepat setelah sosok Brimwood menghilang di persimpangan, telepon genggam Malbourne berdering. Merknya cukup terkenal, dan bisa dikatakan terlalu mahal untuk seorang yang miskin sepertinya.

“Ya, Malbourne di sini.”

“Mal, ini aku,” Malbourne tak perlu menanyakan namanya. Ia sudah tahu dari karakteristik suaranya yang membekas di kepala. “Kau sudah dengar kabar dari Ralph? Aku tak mendapat konfirmasi darinya. Dihubungi pun tak bisa,” cepat suara dari telepon genggam itu berkata di dalam sebuah nada yang mengambang dalam kepanikan yang samar.

“Aku pun tak mendapatkan konfirmasi apa-apa,” sahut Mal, khawatir. “Tapi aku baru saja didatangi oleh kawanmu itu. Ia tengah dalam keadaan murung. Yang kukhawatirkan Ralph memecahkan pot bunganya lagi kali ini.”

“Ralph? Tak mungkin. Ia sudah berjanji hari ini semuanya akan berjalan dengan lancar.”

“Entahlah, Johnny. Tapi aku meragukan pria itu.”

“Dengar, Mal. Ralph benar-benar sensitif jika mengenai hal ini. Sungguh sulit berada dalam posisinya sekarang. Tapi kujamin padamu, ia telah berusaha sebisanya.”

“Baiklah, kau lanjutkan saja persiapannya hingga ia datang. Tapi jika Ralph menghubungimu untuk membatalkannya, kau batalkan saja. Tapi seperti kataku tadi, lanjutkan jika Ralph tak menghubungimu.”

“Okay, tak masalah.”

Kemudian panggilan itu terputus. Sambil menatap simpangan dimana Brimwood menghilang, Mal mendesah dalam hati. Di dalam hatinya ia terus berdoa, semoga saja hari ini adalah harinya.

***

Entah apa yang ada di pikirannya, namun berhenti di sebuah gang sempit bukanlah pilihan Brimwood. Ia tak tahu apa yang ia lakukan, hanya menyandar di dinding gang sepi itu, kemudian perlahan merosot hingga bokongnya terjatuh di tanah.

Seperti seorang pengemis ia duduk di pinggir gang. Tak ada siapa-siapa di sana. Yang hanya ia lakukan hanyalah meneguk perlahan birnya. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Ia tak bergerak dari duduknya. Birnya pun masih menggenang dalam botol. Ia mendesah ketika kepalanya benar-benar buntu. Ia tak mengerti apa yang terjadi padanya. Deja Vu itu benar-benar kuat. Ia memiliki perasaan optimis tentangnya. Dan Ralph, ia tahu pria paruh baya itu adalah ayahnya. Tapi mengapa Ralph harus berbohong?

Ataukah ialah yang salah? Apakahmemang kepalanya yang tak beres? Jika benar ia salah, maka ia menginginkan seseorang untuk meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar salah. Dan ia menginginkan Ralph Stanleylah orangnya. Akan tetapi pria itu adalah seorang berengsek. Brimwood tak henti-hentinya memutar kembali kata-kata terakhir psikiater itu—Ralph mengusirnya tanpa alasan yang jelas!

Kemudian ia menghela napas panjang. Untuk sesaat ia tak ingin memikirkan masalah ini. Ia meneguk sisa birnya, seraya menyanyi tak jelas dengan lirik yang benar-benar meracau. Suaranya parau dan lantang di keheningan malam. Seorang tuli pun dapat terbangun karenanya. Akan tetapi ia sedang tidak dekat dengan pemukiman. Yang hanya mendengar suara paraunya itu hanyalah jangkrik dan kodok-kodok yang memainkan orkestra malam, beserta tiga remaja riang yang mendekat ke arahnya.

“Benar bukan?” sahut salah seorang dari tiga remaja itu yang perawakannya paling besar daripada yang lain. “Orang aneh itu pasti berada di sini!”

Remaja yang kedua tersenyum menyambut tawa riang yang pertama. Sedang remaja ketiga tengah menahan kegugupannya di balik kacamata bundarnya.

Brimwood menghentikan nyanyian paraunya, seraya melototi ketiga remaja itu silih berganti.

“Aku sudah cukup melihatnya,” bisik yang ketiga, tak tahan dengan kegugupannya sendiri. “Sebaiknya kita pulang saja sekarang.”

“Jangan jadi pengecut kau berengsek,” bisik remaja kedua setengah dongkol.

Kemudian remaja berkacamata bundar itu terdiam. Ia berdiri di belakang kedua temannya. Untuk sesaat Brimwood tak mengerti perkara kehadiran tiga remaja itu, kemudian cepat ia menyadarinya, kalau mereka tengah menguji nyali.

“Orang aneh, sudah berapa yang kau bunuh hari ini? Tiga? Empat?” tanya remaja pertama dengan nada sinis dan menantang.

Brimwood tersenyum. Senyumnya bukanlah ditunjukkan untuk menghangatkan suasana, akan tetapi lebih tepat untuk membalas tantangan remaja itu.

“Belum. Aku belum membunuh orang. Akan tetapi sebentar lagi akan menjadi tiga.”

Mendengar hal itu remaja berkacamata bundar itu langsung dilanda ketakutan. Bukan inilah yang ia harapkan. Ia tak ingin menjadi korban pembunuhan di gang sepi, maka ia melangkah mundur perlahan, bersiap untuk berlari sekuat tenaga dan menghilang di kegelapan gang. Tapi di dalam angannya, ia masih sempat meragukan aksinya itu. Bagaimana jika kedua kawannya masih hidup sedangkan ia sendiri kabur? Seumur hidup ia akan dicap sebagai pengecut. Dan ia tak ingin hal itu terjadi di dalam dirinya. Ia ingin membuktikan dirinya dengan menghapus imaji itu dari dalam dirinya, bukannya malah memperkuatnya.

“Kau ingin membunuh kami, berengsek? Heh? Coba saja!” remaja pertama mengeluarkan sebuah benda hitam legam dari sakunya. Sebuah revolver kaliber .44. Mainan yang ilegal untuk remaja seusianya.

“Jadi kau menantangku?” geram Brimwood. Ia bangkit dari duduknya, menghadap ke arah tiga remaja labil itu. Botol yang ada di tangannya, langsung di hantam ke dinding yang tepat berada di sebelahnya. Pecah dan bersiap digunakan sebagai senjata untuk menusuk.
“Mundur kau bajingan, aku tak bermain-main dengan pistol ini,” gertak remaja itu, dengan pucuk revolver sudah mengarah ke dada kiri Brimwood.

“Aku juga tak bermain-main dengan botol ini!” balas Brimwood tegas.

Sejenak suasana hening malam mengambil alih. Memanaskan suasana di setiap pergantian detiknya. Remaja itu mulai goyah dengan bidikannya. Tangannya bergetar, dan kedua kawannya yang bersembunyi di belakang punggungnya sudah kehabisan nyali untuk tetap berada di situ. Maka ketika salah satu dari mereka mengambil langkah pertama, yang yang lainnya menyusul di belakang dengan kecepatan yang tak kalah dengan lari hiena. Meninggalkan remaja berpistol itu sendirian menghadapi Brimwood.

“Pulanglah. Tak harus ada keributan sekarang,” Brimwood memberikan kesempatan, namun remaja itu tak bergeming. Kemudian ia melangkah maju perlahan. Pecahan botol di tangannya sudah siap menusuk, namun matanya awas terhadap serangan mematikan yang mungkin saja akan dilancarkan oleh remaja itu. Tak ada yang tahu apakah remaja itu mempunyai cukup nyali untuk menarik pelatuknya, akan tetapi Brimwood tahu ia harus berhati-hati.

“Mundur, mundur! Atau kutembak kau!”

Brimwood tak mengindahkan peringatan itu. Sebab ia masih tak melihat keberanian di mata remaja itu. Ia masih melangkah maju. Hingga jarak mereka begitu dekat, cepat tangan kiri Brimwood meraih pistol itu. Dan dengan kesiagaan yang mantap, ia mengarahkannya ke langit malam. Dan betul saja, remaja itu meresponnya dengan menekan pelatuknya, menggelagarkan raungan binatang buas yang baru saja terbangun dari lelapnya di malam itu.

Setelah suara pistol itu mereda, Brimwood dengan kekuatannya yang lebih unggul segera merampas revolver tersebut. Remaja itu hanya sempoyongan dan terjatuh di tanah, matanya yang terbelalak menatap Brimwood dengan penuh ketakutan. Ia meminta pengampunan, dan Brimwood hanya menyuruhnya lari karena ia tahu tempat itu akan segera ramai mengingat suara tembakan mesiu akan cepat merambat di medium udara malam yang tipis dan dingin.

Remaja itu langsung bangkit dan berlari ke arah yang berlawanan. Brimwood hanya terdiam menatapnya dengan penuh rasa jijik. Lalu, tanpa diduga-duga, remaja itu meneriaki angin malam, yang langsung mengejutkan Brimwood, sekaligus membuatnya geram.

“Orang aneh itu ingin membunuhku! Orang aneh itu ingin membunuhku!”

Anak kurang ajar! Betul-betul kurang ajar! Padahal John sudah memberikan kesempatan hidup untuknya, dan ia masih bisa merengek kosong seperti itu? Brimwood kali ini benar-benar panas. Revolver di tangan kirinya bergetar, gatal untuk diletuskan. Ia mencoba menahan amarahnya, namun tak bisa. Darah sudah terlanjur memenuhi ubun-ubunnya. Ia tak bisa menahan pitamnya naik hingga meletus keluar, bersamaan dengan dua ledakan peluru yang meluncur ke arah remaja itu.

Seketika onggokan tubuh yang tengah berlari itu langsung terpelanting di gang sepi. Tewas tak bergerak hanya dalam beberapa detik.

Di dalam keheningan malam, Brimwood dilanda kebingungan. Apa yang baru diperbuatnya? Ia baru saja menembak mati seorang bocah ingusan. Tapi ia merasa bingung bukan karena perasaan bersalah yang akan menghantuinya, bukan! Akan tetapi, yang ia bingungkan adalah, mengapa ia bisa seringan ini setelah melakukan hal tak waras macam tadi. Hanya terprovokasi sedikit, ia langsung meluncurkan dua peluru ke arah remaja labil yang tak mengerti siapa yang tengah dihadapinya.

Lalu Brimwood memejamkan matanya. Mendinginkan kepalanya. Mencoba untuk tenang, menghilangkan kebingungan itu. Perlahan-lahan, ia mendapatkan intinya. Semuanya sudah jelas sekarang. Ia tak memiliki empati kepada remaja itu, itulah yang membuatnya terasa ringan seperti bulu. Empati tidak hilang begitu saja jika tiga orang bocah ingusan datang untuk mengejek dan menantangmu, tidak! Akan tetapi empati lenyap karena adanya sebuah ide yang lebih kuat. Sugesti yang bisa mengotori kepalanya dan merubahnya menjadi seorang pria yang telah kehilangan akalnya.

***

Seorang pria menunggu dengan sabar di kamar Brimwood. Ruangan itu penuh dengan darah. Ada dua kasur di sana, dan ia tengah duduk di salah satunya. Kasur yang lain, terbaring sebuah tubuh dengan termandikan darah di seprainya.

Pria muda itu membawa kapak di tangannya.

Pintu kamar terbuka. Berdirilah seorang pemuda yang telah lelah dengan penampilannya yang berantakan. Melihat pemandangan yang mengerikan di kamarnya, ia hanya tersenyum geli.

“Kau mengerti benar bagaimana cara membuat kekacauan, heh?” komentarnya sambil terkekeh-kekeh.

“Aku datang untuk membunuhmu, Mr. John,” ujar Marco Daffin dingin. Ia tengah mengenakan jas untuk menutupi baju tahanannya. Dan kapak yang ada di tangannya berlumuran darah. “Jangan bertanya mengapa, karena aku tak akan menjawabmu. Memintalah belas kasih seperti yang dilakukan temanmu. Maka aku akan membuatnya cepat.”

“Bagaimana jika kita memainkan permainanku,” ia mengeluarkan revolver yang disimpan di balik jas, mengecek isi di dalam silindernya, sisa tiga peluru. “Memintalah belas kasih, maka aku tak akan membuat rasa sakit di dadamu.”

Hari ini semakin menggila saja. Marco Daffin yang datang untuk membunuh Brimwood, malah diancam balik olehnya. Cepat Marco sadar, jika Brimwood tengah menggila seperti itu, maka ia tidak sedang bermain-main. Ia benar-benar serius. Ini adalah pengalaman yang seharusnya terhindarkan, dan entah mengapa, semuanya menjadi kacau begitu saja. Darimana Brimwood mendapatkan pistol itu? Pertanyaan itu membuat tangannya menggigil. Ia tak berkutik dengan kapaknya. Bulu romanya berdiri seperti tengah berhadapan dengan hantu penjaga pemakaman.

“Dengar kawan, kau tak harus melakukan ini,” Marco mencoba menenangkan Brimwood. Sekarang imaji pembunuh berdarah dingin benar-benar hilang dari matanya. Yang hanya ia coba lakukan sekarang adalah, membuat Brimwood melepaskan pistol yang ada di tangannya.

“Aku juga tak harus melewatkan hal ini,” balas Brimwood, senyumnya semakin licik saja. “Aku tak memiliki alasan untuk membunuhmu, dan aku juga tak memiliki alasan untuk membiarkanmu hidup. Tapi ketika aku membuka mataku, semuanya akan kembali seperti biasa. Tak ada yang dirugikan, bukan?”

Marco tak bergeming. Tangannya bergetar memegang kapak berdarah itu, yang ia lepaskan ketika Brimwood menyuruhnya untuk menjatuhkan dan menjauhkan dari jangkauannya.

“Dengar, John, ini bukanlah mimpi!” seru sebuah suara yang mengalami distorsi mengambil suasana tepat sebelum Marco membela dirinya, asalnya mungkin dari radio di dekat ranjang Jack. Brimwood cepat mengenalinya sebagai suara pedagang gemuk yang memberikannya kasbon secara murah hati, Malbourne. “Jika kau membunuh Marco sekarang, ia tak akan kembali keesokan harinya!”

“Oh, boy! Aku tak dapat melihatmu, Mal,” seru Brimwood, ia mengarahkan bidik pistolnya ke segala penjuru, mencari-cari sesuatu yang tak pasti. “Tunjukkan dirimu!”

“Kau tak tahu seberapa rusaknya kepalamu, nak,” Malbourne masih berusaha menenangkan Brimwood, dengan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. “Kau hidup dalam fantasimu, dalam mimpimu! Kau tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Setiap hari kau jalani dengan kisah-kisah baru, dan kami semua menjalani semua itu untuk melengkapi mimpimu! Kami melakukannya untuk mengobatimu, John. Kau sedang sakit, tapi kau tak perlu menyakiti orang lain dengan penyakit yang kau derita. Kau harus melawannya!”

“Mal, kau bajingan! Marcolah satu-satunya yang sakit di sini. Bajingan itu baru saja membunuh Jack!” Brimwood seperti berbicara dengan angin kosong. Ia tak dapat melihat Mal dimana-mana.

“Tidak, kawan. Kaulah Marco Daffin. Kau dan aku, kita hanya berganti peran,” Brimwood langsung membidik Marco. Jempolnya menarik palu, sekali saja pelatuk ditekan maka peluru akan meluncur. Hal itu membuat adrenaline Marco membanjir hingga ke kerongkongan, membuatnya kesulitan bernafas. Secara refleks membuatnya cepat menjelaskan suasana yang sebenarnya terjadi karena rasa panik sekaligus khawatir akan keselamatan dirinya juga kesehatan Brimwood. “Ralph mengatakan kami bisa menyembuhkanmu dengan membuatmu yakin bahwa kau tengah berada di luar lingkup mimpimu, Marco. Tapi kau harus menanamkan ide itu sekaligus melenyapkan ide sebelumnya yang membuat kepalamu berantakan!”

“Oh, ya? Dan bagaimana kalian melakukannya?”

Marco—John Brimwood yang sebenarnya—terdiam sesaat ketika kawannya yang mengalami gangguan mental tersebut berganti sorot matanya—lebih tajam lagi. Ia tahu jika ia mengatakan skenario yang telah mereka jalani selama ini tak akan mengubah apapun sebab ia tahu itu bukanlah sugesti yang cukup kuat untuk mempengaruhi otak Marco, namun juga tak akan menjamin keselamatannya.

“Kau datang kepadaku ketika aku berpura-pura akan membunuhmu,” Brimwood menelan ludahnya, berusaha setenang mungkin menjelaskannya kepada Marco, karena ia tahu kesalahan kecil dalam suasana gila seperti ini dapat merengut nyawanya.

Pengacara itu tak akan mengingat hal ini keesokan harinya, sebab ia akan menjalani mimpi baru dan ingatannya akan kembali di pagi harinya. Mungkin esok ia akan menjadi seorang artis, polisi, penyanyi, seorang penulis, atau berandalan yang mencari nafkah dengan mengintimidasi pejalan kaki yang bisa ia temui. Tapi ia tak akan mengalami mimpi yang sama untuk kedua kalinya. Itulah mengapa Marco mengira ia tak pernah bermimpi. Karena kehidupan yang ia jalani adalah mimpi dan di setiap paginya, ia akan menjalani mimpi baru dan melupakan mimpi yang sebelumnya.

“Lalu apa? Kau akan mengintimidasiku dan aku akan menyerah begitu saja?”

“Tidak, tidak kawan. Di sinilah bagian tersulitnya. Kau akan meminta belas kasih dan meyakinkan diriku bahwa aku tak sedang bermimpi, menjelaskan apa yang telah kau pelajari dari pengamatanmu terhadap diriku juga penjelasan Ralph. Tekanan psikis yang kau alami akan membuatmu mengerahkan seluruh perhatianmu untuk meyakinkan diriku, dan pada saat yang bersamaan kau secara tidak sadar meyakinkan dirimu juga. Menurut Ralph itu adalah sugesti terkuat yang bisa diterima oleh setiap individu.”

“Berapa lama kalian melakukan omong kosong ini? Sebulan? Setahun?”

“Empat tahun,” kata itu langsung keluar dari mulut Brimwood, yang langsung mengingatkannya pada sesuatu yang sangat penting selama empat tahun ini, akan tetapi entah ia atau yang lainnya ingat pada hal penting tersebut. “Hari ini tepat yang ke empat tahun.”

“Lalu mengapa aku tetap gila seperti ini? Apa kalian bekerja tak becus atau memang ini hanya mimpiku sendiri?”

“Marco, dengarkan aku. Teknik ini pernah digunakan Ralph untuk menyembuhkan sakit mentalnya sendiri. Ia memberikan sugesti kepada dirinya sendiri, dan hal itu memang membuatnya sembuh,” sahut Malbourne dari balik speaker radio. “Kami hanya membutuhkan waktu. Keseimbangan psikismu sangat rentan! Sekali saja kau menyadari bahwa kau tengah bermimpi maka kau akan berubah menjadi seorang yang kalap seperti ini!”

Marco hanya terkikik mendengar suara Malbourne. “Maksudmu, yang ini bukanlah pertama kalinya?”

“Hal ini sering terjadi, setidaknya seminggu sekali. Tapi kau tak pernah muncul dengan pistol,” ujar Brimwood.

Kikikan itu lenyap. Yang tersisa hanyalah senyum samar yang menandakan ia tengah kebingungan.

“Marco, demi Tuhan, lepaskanlah pistol itu. Kau tak perlu melukai siapapun. Ini bukanlah kewajibanmu, kawan. Bukanlah kewajibanmu untuk mengikuti orang lain yang ada di kepalamu,” ujar Johnny dengan suara rendah dan sejuk. Ia masih saja berusaha untuk menenangkan Marco.

Pengacara itu merundukkan kepalanya, namun bidiknya masih terarah ke Brimwood walaupun sedikit bergetar. Sayup-sayup keheningan datang dari luar pintu tempat Marco Daffin berdiri. Dan ketika ia mendongak, matanya sudah penuh dengan peluh.

“Apa yang kau rasakan, Marco? Apa yang kau rasakan?”

“Bingung,” aku Marco, suaranya mulai samar tersedan. “Oh! Seseorang tolong selamatkan aku dari keraguan ini,”keluhnya kemudian.

“Kepalamu tak akan menelan mentah-mentah apa yang kukatakan kepadamu tadi. Tapi jika memang benar ada keraguan di benakmu, gunakanlah keraguan itu untuk melawan bisikan yang ada dikepalamu. Lepaskanlah pistol itu, kau tak akan mengingat hal ini esok paginya—maka tak ada yang perlu kau sesalkan. Aku berjanji. Aku akan berjanji akan memulainya dari awal lagi esok harinya, esoknya lagi, dan kemudian esok harinya. Kau pasti sembuh suatu saat, kawan.”

Ingus yang mencair meluncur dari hidungnya, dan Marco mengerahkan punggung tangan kanannya untuk menahan ingus itu. Sedang tangan kirinya makin kacau membidik Brimwood, ia mulai menangis.

“Aku melihat ketakutan di matamu,” lirih Marco. “Apakah kau memandangku sebagai sebuah sosok yang perlu ditakutkan seperti ini?”

Brimwood tersenyum. Entah mengapa senyum yang tak pernah ia sunggingkan selama bertahun-tahun, datang kepadanya begitu saja malam ini.

“Aku pernah mendatangimu di lapangan hijau yang ada di Vichte City, dengan katapel yang ada di tanganmu. Kau mengatakan itu adalah katapel buatan ayahmu dan kau tak bisa diam tanpa menyakiti orang lain dengannya. Saat kau menyadari sesuatu yang salah, kau bertanya apakah aku takut padamu. Lalu aku mengatakan apa yang kurasakan padamu waktu itu, dengan segala kejujuran yang kumiliki walaupun itu memalukan untuk dikatakan. Aku tahu kau tak akan menyakitiku dengan benda itu, tapi kehadiran katapel itu membuat nyaliku benar-benar kecut. Kau tersenyum, seraya mengatakan terkadang kita memiliki kelemahan yang terkadang sulit untuk dikatakan kepada orang lain, tapi entah mengapa kita mengatakannya kepada orang yang kita percaya. Mungkin itulah alasannya, karena aku percaya padamu. Aku percaya bahwa kelemahanku akan aman bersamamu, dan kelemahanmu akan aman bersamaku. Aku mengatakan apa yang kupikirkan kepadamu, lalu kau berkomentar, itulah artinya persahabatan.”

“Tapi ini bukanlah sebuah katapel!” seru Marco dengan dada yang mulai sesak dengan lirihnya sendiri. Ada kegusaran di benaknya, mungkin kegusaran itu datang dari dusta Ralph yang telah terbukti dengan penjelasan Brimwood. Marco mengalami Deja Vu dimana ia bertemu dengan Brimwood di lapangan hijau dengan katapel di tangannya. Itu adalah pengalaman yang berharga baginya, dimana sepatah kata yang membuktikan eksistensi persahabatan yang pernah dirasakan olehnya. Begitu juga dengan Deja Vu yang ia alami saat menatap mata Ralph: sebuah bukti tentang keberadaan hubungan darah yang ada di nadinya.

“Aku tahu, kawan. Itulah yang membuatku takut padamu. Tapi aku percaya padamu, kau tak akan menyakitiku. Kuharap kau percaya padaku juga,” ujar Brimwood. “Turunkan dan lepaskanlah pistol itu, Marco. Demi persahabatan kita selama ini, lepaskanlah,” pintanya.

Marco menurunkan bidikannya, meletakkan kembali palu revolver itu.

“Ini tak akan berhenti,” lirih Marco, hampir berbisik. Matanya kini memandangi pistol revolver di tangannya, keraguan itu masih ada di matanya. “Aku tahu di kemudian hari aku akan berubah menjadi lebih mengerikan lagi, lebih dari ini. Dan ketika aku berubah kalap, tak ada yang bisa kulakukan selain merepotkan dan mengintimidasi kalian. Ini adalah siklus yang tak akan pernah berakhir. Aku tak akan pernah keluar dari hal ini.”

“Tidak, Marco. Kau akan keluar dari sini. Berikan kami kesempatan sekali lagi! Sedalam apapun kau terjebak di dalam lubang, kami akan berusaha menggalinya dan mengeluarkanmu dari sana!”

“Terlambat, John. Keraguan ini lebih menyakitkan daripada duri yang menusuk jantungku. Aku hanya tak sanggup jika menemukan diriku tak bisa keluar dari lingkaran yang menyakitkan ini,” ia kembali menarik palunya, menempelkan moncong pistol itu ke bawah dagunya. “Selamat tinggal, kawan!”

Sontak mengambil langkah yang sangat lebar, berlari ke arah Marco. Namun ia tahu ia tak akan memiliki cukup waktu. Menekan pelatuk dibutuhkan waktu kurang dari setengah detik untuk melakukannya!

Namun sebelum Marco menghabisi nyawanya sendiri, sebuah jarum tipis menancap di pangkal lehernya. Benda itu membuatnya terbelalak, lupa pada pistol yang ada di tangannya. Sedetik kemudian, ia langsung pingsan dan Brimwood ada di sana saat tubuhnya terkulai lemah dan hampir saja terjerembab ke lantai.

Di belakangnya berdiri seorang pria gemuk dengan sebuah suntikan obat sedatif yang memiliki efek cukup kuat untuk langsung membuat orang yang diinjeksi tertidur seketika. Brimwood tersenyum dan mengatakan terima kasih dalam hatinya karena Malbourne telah menghentikan Marco tepat sebelum ia mengakhiri semua ini dengan cara yang paling memilukan.


***


“Baringkan ia perlahan,” ujar pria gemuk itu dengan nafas yang terengah-engah. Di depannya, Brimwood tengah membaringkan bahu Marco perlahan di ranjangnya, sedangkan Malbourne sendiri meletakkan kaki pemuda itu.

“Hari ini yang paling buruk,” sambil duduk di ranjang Marco, Malbourne mendesah seraya mengusap keringat di wajahnya yang berminyak. “Sedikit saja kita lengah dan semuanya akan berakhir begitu saja.”

“Terima kasih kepadamu,” ujar Brimwood ramah. “Sedetik saja kau terlambat maka ia sudah tak bernyawa sekarang.”

“Tidak, Johnny. Kaulah yang melakukan semuanya. Kaulah satu-satunya orang yang dapat menenangkannya. Bahkan Ralph sendiri percaya kau dapat melakukannya.”

“Aku tak bisa melakukannya, Mal. Aku dapat menyelamatkan diriku tapi hampir membuatnya terbunuh.”

“Jangan salahkan dirimu atas hal ini, oke? Kau tak boleh menjalani sisa hidupmu dengan rasa bersalah seperti itu.”

Tiba-tiba, di dalam jeda yang cukup panjang, sebuah suara menyahut bersamaan dengan bangkitnya sebuah sosok berdarah.

“Apa semuanya sudah berakhir?” Jack Louis, yang seharusnya mati, kini telah bangkit dari kematiannya.

“Kau anak haram jadah!” umpat Brimwood. “Sampai kapan kau akan tidur di sana, bajingan?”

“Hei, jangan salahkan aku. Bagaimana jika ia membunuhmu dan tahu kalau aku tengah berpura-pura mati. Tentu saja nyawaku akan ikut melayang!”

“Berengsek...” Brimwood hendak menerjang Louis yang tengah bermain tolol di ranjang berdarah (memang nampak pekat dan berbau amis, tapi darah tersebut tidaklah sungguhan), namun tangan gemuk Malbourne cepat mencegahnya.

“Sudahlah, jangan seperti kekanak-kanakan macam itu,” ia menyuruh Marco diam di tempatnya, juga menyuruh Jack Louis membungkam mulutnya.

“Ralph tadi meneleponku. Ia akan datang sebentar lagi dan akan menjelaskan semua kegilaan ini.”

Brimwood kemudian mengambil napas panjang, kemudian ikut duduk kembali di sebelah Malbourne, menunggu Ralph untuk menunjukkan batang hidungnya.


***

“Sialan kau, Ralph! Siapa orang-orang itu?” tanya Malbourne terkejut sekaligus khawatir melihat Ralph Stanley baru saja keluar dari sebuah mobil biru yang terparkir di depan rumah sewaan itu setengah menit yang lalu.

“Mereka polisi,” jawab Ralph, dengan perasaan bersalah. “Aku tak punya banyak waktu, masuklah. Mereka akan ada di sana memastikan aku tak pergi kemana-mana.”

“Apa yang terjadi?”

Psikiater itu terdiam sesaat. Sedang dari tirai kegelapan, dua pasang mata terlatih menatapnya lekat. “Marco merebut sebuah pistol dari seorang anak yang dibunuhnya tadi. Dua kawannya langsung melaporkannya ke polisi ketika mendengar dua kali suara letusan senjata api, dan sepuluh menit kemudian mereka menemukan mayatnya.”

“Ya Tuhan!” seru Mal. “Itu menjelaskan mengapa ia membawa pistol kemari!”

“Apa ada yang terluka?” cemas Ralph.

“Tidak ada,” jawab pria gemuk itu. “Tetapi ia hampir membunuh dirinya sendiri.”

Mendengar hal itu wajah Ralph langsung pucat pasi. Kacamatanya pun tak dapat menyembunyikan gumpalan peluh di matanya. Dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu, mendapati dua pemuda yang tengah menunggunya di sana, dengan seorang pemuda lagi yang ia khawatirkan keselamatannya tengah tidur tenang di sebuah ranjang.

“Syukurlah,” desah Ralph lega. Air matanya berlinang di wajahnya.

“Semuanya berantakan, Ralph,” sesal Brimwood. “Beruntung Malbourne sempat membiusnya.”

Ralph mengangguk, kemudian ia menghampiri Marco, anaknya. Brimwood yang duduk di ranjang memberikan ruang kepada psikiater itu. Malbourne tidak langsung masuk, melainkan terdiam di ambang pintu, menatap kawan lamanya dari sana.

“Ini semua kesalahanku,” lirih Ralph, ia mulai tersedu sedan. “Aku tahu semua ini akan berantakan dan aku membiarkannya begitu saja.”

“Mengapa kau melakukannya, Ralph? Kau hampir membuat kami terbunuh!” protes Jack.

“Ya Tuhan, Jack, bisakah kau diam? Kau tahu hari apa ini?”

“Sabtu?”

“Bukan itu maksudku, tolol! Ini adalah hari terakhir yang tertera di surat izin terapi Ralph. Ini adalah kesempatan terakhir kita, dan aku tahu Ralph tak ingin menyerah begitu saja!” kemudian Brimwood menatap Ralph yang hanyut dalam isak tangisnya. Ia memelankan suara. “Sejak tadi aku tak henti-hentinya menaruh diriku di dalam posisimu, Ralph. Sungguh sulit untuk merelakan kesempatan ini. Aku akan melakukan hal yang sama jika menjadi dirimu.”

“Terima kasih, John,” lirih Ralph, kemudian ia terdiam sesaat. “Bisakah kalian meninggalkanku sendiri.”

Jack dan Brimwood saling menatap satu sama lain. Saling berkomunikasi lewat tatapan mata sekilas, kemudian cepat mereka bangkit ketika suara Malbourne memanggil mereka keluar.

Sejenak bola mata Ralph yang basah berbinar-binar. Telapak tangannya mengusap mesra kening Marco, menyapunya hingga ke ubun-ubun—kebiasaannya semenjak ia membiarkan Marco kecil ketiduran menunggunya pulang kerja hingga larut malam.

“Bagaimana harimu, nak?” tanyanya dengan nada yang lebih tegar daripada sebelumnya.

Untuk sesaat tak ada jawaban. Anaknya hanya memejamkan matanya dengan cuping hidung yang kembang kempis menghirup dan menghembuskan udara dalam tidurnya.

“Aku tak tahu. Menurutmu bagaimana hariku?” desah sebuah suara lemah dari sebuah mulut yang hampir tertutup rapat.

“Kau selalu tahu aku sedang berusaha. Berusaha untuk membentuk hari-harimu. Tapi nampaknya sekarang adalah kesempatan terakhirku untuk mencoba. Mereka akan menarikku, mendekamku, dan mencampakkanku dari dunia luar. Itu adalah konsekuensi yang harus kuterima jika sesuatu yang salah terjadi. Aku sudah berjanji kepada mereka tentang sebuah jaminan, dan mereka menuntut sebuah tanggung jawab. Dan sepertinya hari inilah tepatnya aku harus bertanggung jawab.”

Seberapa pun Ralph mencoba, sedunya tetap saja meledak. Masih banyak kata-kata yang ia ingin curahkan di kesempatan terakhir ini, namun kesedihan telah menjauhkannya. Lebih jauh dari jeruji besi membentangkan dunia luar darinya.

“Mengapa kau menangis, yah?” igau Marco. Sepertinya alam bawah sadar lebih peka terhadap dunia luar daripada kesadarannya sendiri. Itulah yang membuat Ralph lebih merasa dekat dengan anaknya saat ia tertidur. Walaupun begitu, Ralph Stanley menginginkan hal yang lebih. Sesuatu yang lebih nyata, bisa digenggam, dan bisa untuk dikenang. Ia menginginkan anaknya sehat, dengan kerja kerasnya sendiri. Akan tetapi ia tahu bayangan itu telah hancur bersamaan dengan tangis malam ini.

“Mereka ... mereka akan membawamu, nak. Mereka akan membawamu jauh dariku. Dimana mereka akan menggunakan jarum suntik dan aktifitas berulang-ulang sebagai kebiasaan. Oh Tuhan, kuharap mereka tahu apa yang mereka lakukan pada anakku.”

***

<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>