Tiga Mimpi [END]



EPILOGUE

“KEMANA kau akan pergi, John?” tanya pria yang tengah sakit di ranjangnya.

“Aku akan menjenguk iparku yang tengah dipenjara,” jawab Marco—yang pagi hari ini mengira dirinya Brimwood lagi—sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Ia berjalan ke arah lemarinya, dan terheran ketika mendapati dua pakaian yang ia dapat kenakan: setelan jas berwarna krem dan sebuah jaket kulit.

“Jack, apa jas ini punyamu?” tanyanya sambil meraba-raba permukaan kainnya yang halus, berwarna krem. Sangat cocok untuk kulitnya, sebenarnya.

Jack tahu kalimat ini. “Itu punya kawanku,” jawabnya. Tentu ia tak berdusta, sebab Marco memang kawannya, dan jas itu memang milik Marco. “Kemarin ia datang kemari untuk menitipnya di sini sebentar, sebab mertuanya tengah menginap di rumahnya dan ia tahu sang mertua sangat sensitif dengan jas mahal seperti itu.” Kini ia baru berdusta.

Marco hanya mengernyitkan bibirnya, sambil menilai jas tersebut. “Kawanmu benar-benar memiliki selera yang bagus,” pujinya, sambil mengambil jaket kulit yang tergantung di dalam lemari itu.

“Begitulah. Hei, aku tak tahu kau punya saudara ipar, siapa namanya?” tanya Jack.

“Marco Daffin,” jawab Marco cepat. Ia merasa dongkol menyebut namanya itu, sebab ia tak tahu jika ia menyebut namanya sendiri.

“Apakah ia tipe ipar yang tak-akan-berbagi-denganmu? Kau kelihatan kesal padanya.”

“Tidak, kawan. Ia adalah tipe ipar yang akan-membunuhmu-jika-kau-macam-macam-dengannya. Ia adalah salah satu dari orang-orang yang mereka sebut pembunuh psikopat. Bajingan tengik, aku selalu berharap adikku tidak menikah dengannya.”

“Maka aku harus berterima kasih padamu,” sahut Jack Louis.

“Untuk apa?”

“Mengalihkan mimpi burukku menjadi mimpi burukmu, John.”

Marco mengeluarkan napas pendek, tertawa sesaat. “Tidak kawan. Ia bukanlah bagian dari mimpi buruk. Sebab aku tak pernah bertemu dengannya di mimpi. Bahkan bermimpi pun aku tak pernah.”

Ia kemudian terdiam. Matanya tak sengaja menatap kaca hitam lebar di dinding, sedang Jack hanya berbicara sendiri di latarnya. Tak sengaja benaknya menebak-nebak ruang di seberang. Ada apakah gerangan di dalam sana?

Sebenarnya, ada dua pria yang mengintipnya dari ruangan itu. Sebuah radio di sana terhubung dengan radio di kamar Marco. Salah seorang yang lebih muda, menyalakan bara rokoknya.

“Berapa lama waktu yang kita punya?” tanya Brimwood. Ia tak khawatir bersuara keras di ruangan itu. Dari ruang gelap itu, nampak jelas Marco berdiri. Dan juga suaranya, tak akan bocor ke ruangan sebelah kecuali jika ia menekan tombol di radionya.

“Entahlah. Dua jam. Tiga jam paling lama sebelum mereka menjemput Marco,” jawab Mal dengan suara datar, matanya tak lepas dari mata Marco yang terarah ke tempat mereka.

Brimwood mendesah. “Kuharap Ralph menerima bingkisan kita dengan sukacita. Aku tak ingin mendengar kabar sedih dari pria malang itu.”

“Ya. Kuharap juga begitu,” Malbourne tertegun sesaat, kemudian menghirup cangkir kopinya. “Kau tahu, Johnny, ada tiga mimpi yang sebenarnya pernah dialami oleh umat manusia.”

Sebuah topik basa-basi, pikir John Brimwood. Ia tahu hal ini tak ada hubungannya dengan penyakit Marco. Sebab bergumam di waktu senggang adalah kebiasaan pria gemuk itu.

“Mimpi yang pertama adalah mimpi yang kau alami ketika kau tertidur,” ia menjawab pertanyaannya sendiri saat tak mendapati suara yang menjawabnya, berpura-pura Brimwood tengah mendengarkannya dan ia sama sekali tak merasa dongkol akan hal itu. “Yang kedua, adalah mimpi yang kau alami ketika kau tengah berada di antara tertidur dan terjaga. Mereka sering menyebutnya The Twilight Zone. Nama yang cukup unik menurutku sebab serial TV favoritku memiliki nama yang sama.

“Dan yang ketiga, mimpi yang kau alami saat kau terjaga. Mimpi yang paling mengerikan ketika kau tak bisa keluar darinya. Dan aku prihatin kepada kawan kita yang mengalaminya. Jujur, setiap doa yang kupanjatkan kepada Tuhan adalah meminta kesembuhannya. Sebab aku tak tega melihat Ralph menjalani sisa hidupnya dengan dukacita yang pelik, menderita ketika melihat anaknya terjebak dalam mimpi itu.”

***

Seorang pria gemuk dan berpostur tubuh pendek membuka kunci jeruji besi Ralph. Di balik seragam dan lencananya, suaranya terdengar berat.

“Bangunlah, Ralph. Marco mengunjungimu.”

“Marco?” Ralph yang baru saja terbangun dari ranjang besi, langsung mengusap matanya. Walaupun masih asing, pria itu berusaha terbiasa dengan ruang kecil di balik jeruji dengan ranjang yang menggantung dengan dua rantai di sudut kiri dan kanan yang terikat kuat ke dinding. Setelah menggeliat sesaat, ia mengenakan sepatu murahnya dan berjalan ke arah polisi gemuk itu.

“Ya. Aku tak tahu apakah kalian masih memiliki izin untuk itu, tapi kurasa aku harus memberikanmu kesempatan untuk bertemu dengan anakmu untuk yang terakhir kalinya. Kau pria yang baik, Ralph. Dan kau pantas menerimanya.”

Dari balik kacamatanya, tatapan sejuk Ralph sungguh berterima kasih. Kemudian, seakan mengerti betul makna tatapan tersebut, sang polisi membalasnya dengan sebuah anggukan. Mereka adalah kawan lama dan saling mengenal satu sama lain. Ralph benar-benar beruntung memiliki satu kawan di kepolisian. Sungguh membuat hatinya meleleh lega mendapat kesempatan yang mungkin saja tak akan bisa diterimanya, untuk semasa sisa hidupnya.

“Cepatlah. Sebelum mereka membesar-besarkan masalah ini,” ujar polisi itu dengan nada memerintah. Kemudian mereka keluar ruang tahanan, dan menyusuri lorong yang sepi. Polisi gemuk tersebut menoleh kanan kiri, di pagi hari kantor polisi tersebut masih lenggang benar.

Mereka berhenti di ujung koridor. Polisi itu membuka pintunya, kemudian mereka masuk ke ruang pengunjung. Ruangan itu masih terbagi menjadi dua bagian yang terpisah dengan sebuah sekat kaca. Di setiap sisi sekat, berbaris kursi yang ditutup oleh papan bilik. Marco duduk di salah satu kursi di sisi lainnya.

Ralph tersenyum melihat anaknya datang mengunjunginya. Bahkan ia hampir menangis di sana.

“Marco Daffin?” suara Marco yang penuh dengan tanda tanya langsung menyerbu tepat ketika Ralph menempelkan telepon ke telinganya. Telepon tersebut, terhubung dengan telepon lainnya di sisi seberang. Dengan telepon itulah mereka berkomunikasi.

“Ya. Aku Marco Daffin,” jawab Ralph sembari menyunggingkan senyumnya.

Marco mulai tersenyum canggung. Ada sedikit kedongkolan yang tersirat di senyum itu.

“Aku tahu kau bukan Marco Daffin. Dimana Marco Daffin?”

“Oh ya? Darimana kau tahu aku bukan Marco Daffin? Pernahkah kau melihat wajahku sebelumnya? Pernahkah kau mendengar kabar bagaimana rupaku sebelumnya? Pernahkah kau mendengar berapa usiaku sebelumnya?”

Marco terdiam. Kini senyumnya hilang. Mungkin di kepalanya, seribu utas tali saling melilit dan kerukut tak keruan. Ia berusaha menjawab pertanyaan Ralph, namun tak ada bayangan akan kata apa yang harus ia ucapkan.

Ia mengenal persis pria itu. Entah siapa, tetapi wajah tersebut ada di benaknya. Ia hanya tak bisa mengingat. Tapi yang pasti, pria tua itu bukanlah Marco Daffin.

“Kau lihat, nak? Kau tak akan menemukan jawabannya di kepalamu, sebab ada satu Marco Daffin di kepalamu, dan nama itu terkunci benar di sebuah peti yang dalam. Peti tersebut, hanya dapat terbuka untuk selama-lamanya jika kau benar-benar terbangun. Jika kau membukanya tanpa kunci yang benar, peti tersebut hanya akan tertutup keesokan harinya.”

“Aku tak mengerti apa yang kau katakan,” aku Marco. Kepalanya benar-benar seperti kepala pecah sekarang. Pening serasa membelah otaknya menjadi dua bagian. “Demi Tuhan, jangan bertele-tele dan langsung saja katakan siapa kau dan mengapa mereka membawakanmu ketimbang Marco Daffin?”

Ralph terdiam sesaat. Menatap dalam mata Marco. Sayang sekali pemuda itu tak menatap matanya balik, dan menyadari Deja Vu yang akan membawanya pulang ke sisi ayahnya. Ralph sungguh menyesalkan hal itu.

“Apa kau percaya pada nasib, nak?”

“Apa yang—“

“Jawablah!” tegas Ralph. “Aku akan memberitahukanmu dimana kau dapat menemukan Marco Daffin setelah kau menjawab pertanyaanku.”

Marco mendesah pasrah. Ia bertopang dahi, seraya menatap mata Ralph lekat-lekat.

Ia langsung menangkap pengelihatan sekilas yang membuat matanya berbinar-binar. Ia sendiri bingung dengan tangkapannya tersebut.

“Aku tidak tahu,” jawab Marco.

“Tidak, itu bukanlah jawabanmu,” tegas Ralph. Ia tahu kemana perbincangan ini akan berlanjut. “Tapi aku ingin mendengar alasanmu.”

“Aku bukanlah seorang idealis namun di sisi yang lain aku tak ingin terus terjebak dalam masa kini. Itu saja.”

“Tidak, nak. Itu bukanlah alasan yang sesungguhnya. Itu adalah alasan yang ingin kau katakan pada dirimu sendiri. Aku ingin kau menjawab sesuai instingmu. Jawaban apa yang pertama kali terlintas di kepalamu?”

Marco tertegun. Matanya mulai berkaca-kaca, mungkin karena kenangan lama yang kembali lagi kepadanya.

“Ya. Aku percaya pada nasib.”

“Mengapa?”

“Aku tak tahu. Kau bilang jawaban yang pertama kali terlintas di kepalaku. Dan ia tak datang bersamaan dengan alasannya.”

Ralph tersenyum, dan Marco menyadari air mata yang sama dengan matanya di balik kacamata itu. “Kau bukannya tak tahu, tapi kau belum sadar kalau mengetahuinya. Sebenarnya alasannya sudah ada di kepalamu. Dan seperti yang kukatakan tadi, alasan tersebut terbaring bersamaan dengan Marco Daffin di peti yang tersimpan aman.

“Percayalah, nak. Kelak kau akan menemukan kunci yang tepat untuk membuka peti tersebut. Dan alasan mengapa kau tak ingin terjebak di masa kini, karena jauh di dalam kesadaranmu, dimana kau sendiri tak dapat menggapainya, ada sebuah mimpi asing yang mengatakan bahwa kau hidup bukan pada ceritamu sendiri. Kau menjalani cerita lain yang dibuat oleh kepalamu, dan kau telah menjalani lebih dari seribu cerita di pergantian harinya. Tapi, ada satu cerita yang pernah kau jalani, dan akan kau jalani kembali ketika kau membuka peti misterius yang ada di bawah kesadaranmu. Cerita yang akan mengungkap siapa Marco Daffin bagimu, untuk selama-lamanya.

“Itulah alasannya mengapa kau percaya pada nasib. Karena secara tak sadar kau berharap akan membuka peti tersebut dengan kunci yang benar di masa mendatang.”

Entah sadar atau tidak, kau percaya akan masa depan yang lebih baik, nak.

“Dan jika kau sudah membuka peti tersebut dengan kunci yang benar... ” lanjut Ralph dengan suara paraunya. Air muka bingung di wajah anaknya dibalas dengan mata berair penuh rindu oleh orang tua itu, “Tolong kau datang lagi kemari dan ajaklah Marco Daffin bersamamu.”

TAMAT


<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>