<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>
Chapter 1 - Reinkarnasi!!!
Di dalam ruang kosong gelap, tubuh Rio mengambang.
Pelan-pelan ia membuka matanya. Badannya terasa ringan. Ia sempat bingung karena merasakan sensasi itu.
“Ah! Mimpi! Aku bisa sadar kalau ini mimpi. Lucid dream, fak yeaaah!”
Sebenarnya, Rio sudah mati. Betulan mati dan ia sedang tak bermimpi. Tapi jiwanya terangkat ke suatu alam kosong.
*Zhhuuunng*
Sosok naga bersisik biru langit muncul dari ruang hampa.
“Selamat datang, manusia!” suara naga itu terdengar serak dan purba. Dari bola matanya menyala api dengan lidah berwarna biru. Sorotan mata sang naga menatap lekat Rio. Jika saja itu orang lain, mereka akan gemetar karena ketakutan.
“Halo Bang Naga!” Rio membalas sapa naga itu dengan nada santai. Ia masih mengira ini mimpi.
“Manusia; namamu adalah Rio. Umur 17 tahun, berhenti sekolah karena malas. Setiap hari bermain game, hidup menganggur dari sisa tabungan orang tuamu yang meninggal. Dari yang kulihat, seumur hidupmu gak pernah berguna. Setiap hari kamu menyia-nyiakan potensimu. Sebenarnya, sampah sepertimu gak berhak untuk muncul di hadapanku!”
Mendengar ucapan naga itu Rio terkejut.
“Aish! Si Abang Naga jujur betul! Walaupun ini mimpi tapi tetap aja sakit bang! Perih, perih!”
“Jika saja bukan karena orang tuamu yang memintaku untuk menjagamu, kamu gak akan pernah ada di sini,” kata naga itu serius. “Selama hidup orang tuamu selalu membantu orang lain dengan ikhlas. Jika ada kerabat yang sedang susah mereka akan langsung membantu. Jika ada kecelakaan motor bapakmu yang paling pertama yang melarikan korban ke rumah sakit. Ibumu selalu menyumbang dengan mencantumkan nama ‘Hamba Allah’. Orang tuamu... berbeda seratus delapan puluh derajat dari sampah masyarakat sepertimu!”
Mimpi buruk. Rio merasa dibuli oleh Bang Naga!
“Kedua orang tuamu adalah contoh teladan yang baik. Karena itu mereka berhak untuk reinkarnasi setelah meninggal. Tapi ketika dokumen untuk reinkarnasi mereka hampir sah tinggal dicap tiga jari, kedua orang tuamu meminta kesempatan reinkarnasi untuk diberikan kepadamu!”
Rio terdiam. Ia menyadari sesuatu.
“Jalan cerita mimpinya agak aneh. Aku bakalan reinkarnasi. Berarti ceritanya aku sudah mati, dong,” gumam Rio.
“Itu benar sekali,” Bang Naga mendengar gumaman Rio. “Saat ini, kamu sudah MATI!”
MATI!!!
Mati!
mati...
Ruang kosong itu bergetar ketika suara sang naga menggema.
Rio menarik napasnya dalam-dalam. Ia menyadari Bang Naga ternyata menakutkan.
“Bohong!” pikir Rio dalam hati. “Aku sedang lucid dream. Aku gak boleh mati! Harus cari cewek dulu di mimpi ini, siapa tau hoki bisa mimpi basah.”
“Kurang ajar! Berhenti bermain-main! Kamu gak sedang bermimpi. Saat ini, kamu sudah MATI!”
MATI!!!
Mati!
mati...
“Bang Naga bisa membaca pikiranku!” seru Rio dalam hatinya.
“Tentu saja aku bisa membaca pikiranmu. Ini adalah alam di mana aku menjalankan pekerjaan sampinganku. Aku dapat shift malam. Jadi setiap dari jam 7 malam sampai 5 pagi, semua zat dan keberadaan dalam alam ini berada di bawah kendaliku! Hanya membaca gelombang pikiran makhluk lemah sepertimu, adalah hal sepele.”
Bang Naga kemudian terdiam sesaat. Muncul secarik kertas dan pulpen entah dari mana asalnya.
“Ini dokumen ayahmu saat hendak reinkarnasi dulu. Coret saja namanya dan ganti dengan namamu. Kalau ada yang gak terlalu dimengerti kosongkan saja formulirnya. Yang penting tempat reinkarnasi dan peran setelah reinkarnasi diisi dengan jelas.”
Setelah itu Rio tak banyak bertingkah. Ia langsung menarik kertas itu dan mengisi formulir dokumennya.
DOKUMEN REINKARNASI.
Dengan ini pihak yang tertera di bawah resmi dikirim kembali untuk hidup di dunia dengan identitas baru.
NAMA: Rio Sarafadi
TEMPAT TUJUAN: Dunia dengan sihir, monster, dan perang antara manusia dan iblis.
PERAN SETELAH REINKARNASI: Pahlawan legendaris tampan yang akan bertarung dengan Raja Iblis.
KETERANGAN TAMBAHAN: Punya pacar cakep yang setia, lemah lembut dan pintar memasak.
Rio mengosongkan sisanya karena tak terlalu penting. Setelah itu tiba-tiba saja muncul botol tinta hitam mengambang di depannya.
“Sisanya tinggal cap tiga jari!” kata Bang Naga serius.
Botol tinta itu terbuka sendiri. Rio mencelupkan tiga jarinya, dan menekannya ke dokumen itu.
*poof*
Dokumen, pulpen, dan tinta itu menjadi asap dan lenyap tertelan ruang kosong.
Rio berkedip-kedip. Dalam tubuhnya terasa aneh. Dari bawah kakinya, menjalar rasa geli yang sangat tak nyaman.
“Sekarang kamu akan dikirim kembali ke dunia. Semoga berhasil, Rio Sarafadi!”
Tubuh Rio bergetar. Pandangannya memudar. Lalu sekejap menjadi gelap. Kesadarannya menghilang, dan ia jatuh dalam tidur lagi.
***
<<PREVIOUS CHAPTERNEXT CHAPTER>>